31 Maret 2014

MASOHI, Kota yang Sunyi


Inilah cerita perjalanan kami ketika liburan akhir pekan panjang dalam bulan-bulan terakhir kami berada di tanah Maluku. Eksplorasi kami kali ini adalah yang terjauh yang pernah kami jalani. Namun sebelum sampai ke titik terjauh tersebut, kami singgah di sebuah kota mungil bernama Masohi. Jika Anda juga hendak pergi ke kota ini, kami harap posting ini dapat menjadi informasi yang berguna.

CARA KE SANA
Ada dua cara untuk pergi ke Masohi dari Ambon. Cara yang lebih menghemat waktu adalah dengan menggunakan kapal cepat dari Tulehu ke Amahai. Dari Amahai ke Masohi dapat ditempuh dengan ojek selama 10 hingga 15 menit. Cara yang lebih lambat namun lebih murah (inilah cara yang kami tempuh) adalah menyeberang lewat Hunimua ke Waipirit menggunakan kapal feri kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat selama 3 jam menuju ke timur.
SEPANJANG PERJALANAN
Pergi ke Masohi sebenarnya adalah rencana cadangan kami. Tujuan awal kami adalah Pulau Saparua. Akan tetapi setelah mendapat informasi di Pelabuhan Tulehu bahwa feri yang menuju pulau tersebut hanya berangkat pada hari Rabu dan Sabtu, kami secara tiba-tiba berubah haluan. Kami takut tidak dapat kembali tepat waktu ke Ambon. Oleh karena itu, kami tidak tiba di Hunimua dini. Kali ini pelabuhan feri tersebut cukup ramai, tidak seperti pertama kali ketika kami menyebrang ke Seram. Nampaknya jam-jam itu adalah jam sibuk. Tiket Feri seharga Rp 42,500 untuk sepeda motor dengan boncengan. Di atas feri, kami duduk di Ruang VIP dengan membayar biaya tambahan Rp 5,000 per orang. Awak kapal akan mendatangi penumpang di dalam ruangan itu satu per satu untuk meminta uangnya. Dilengkapi dengan AC dan TV, ruangan ini juga memiliki akses ke dek kecil yang merupakan tempat nongkrong favorit kami sebelum kapal mendarat di Seram. Tidak semua feri Ambon-Seram memiliki fasilitas-fasilitas seperti ini. Kami pernah naik feri Ambon-Seram dengan Ruang VIP tapi tanpa akses ke dek. Bahkan pernah juga feri yang kami tumpangi tidak memiliki Ruang VIP sama sekali.

Tiba di Waipirit, langit sangat mendung. Kami akhirnya kehujanan dalam perjalanan ke Masohi. Cukup mengejutkan karena di Ambon akhir-akhir ini tidak turun hujan. Kami berhenti untuk makan siang di sebuah warung makan kecil yang harga makanannya sedikit lebih murah daripada di Ambon. Selain kami berdua, ada seorang pelanggan lagi yang sedang makan di situ. Ia berasal dari suku Noaulu, salah satu suku paling primitif di Indonesia. Ciri-ciri yang paling menonjol dari mereka adalah ikat kepala merah yang selalu dikenakan oleh kaum pria. Mereka punya beberapa adat yang unik sekaligus kontroversial seperti pengasingan wanita yang sedang hamil dan memenggal kepala orang sebagai tanda beranjak dewasa. Hanya setelah tahun 2000-an, tradisi yang memenggal kepala ini tidak dilakukan lagi. Sumber lisan mengatakan ada kelompok adat lain dengan ciri berikat kepala warna hijau. Mereka-lah yang lebih primitif dan konon masih menjalankan tradisi-tradisi yang sulit diterima oleh akal sehat manusia modern.


TIBA DI MASOHI
Setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan, kami akhirnya tiba di Masohi dalam keadaan basah kuyup. Kala itu masih hujan dan banyak bagian dari jalan utama kota terendam air. Yang paling buruk adalah kami disambut dengan listrik yang mati sejak pagi hari. Kami basah kuyup dan kedinginan, lagipula motor kami hampir kehabisan bensin. Jadi kami harus mencari tempat singgah secepatnya. Ini adalah awal dari pengorbanan kami untuk liburan long-weekend ini.


TEMPAT-TEMPAT MENARIK
Seperti di Ambon, Masohi dibagi menjadi daerah Muslim dan Kristen. Masohi adalah kota kecil yang tenang. Tidak seperti di Ambon, tidak ada kemacetan lalu lintas di sini. Pada malam hari, hujan telah berhenti. Kami mengeksplorasi kota ini sedikit. Ada pom bensin di jalan menuju ke Amahai. Ada dua pom bensin lagi sebenarnya di jalan ke arah Masohi yang tadi kami temui dalam perjalanan berangkat. Tapi keduanya tidak dapat diandalkan. Ketika kami ke sana hendak mengisi bensin, mereka mengatakan stoknya habis.

Kami tidak mengunjungi tempat menarik apapun pada malam ini. Tetapi kami mempelajari sesuatu yang sangat penting. Makanan di Masohi lebih murah daripada di Ambon! Nyatanya Ambon mengimpor banyak sekali bahan mentah dari Seram seperti beras, sayuran dan buah-buahan. Harga minuman seperti es teh Rp 3,000, sedangkan di Ambon umumnya Rp 5,000-6,000.

Hari berikutnya cerah jadi kami dapat mengunjungi beberapa tempat di sekitar. Kami perlu membeli beberapa perlengkapan jadi pertama-tama kami mendatangi Pasar Binaya Masohi yang letaknya bersebelahan dengan Terminal Binaya Masohi, hub transportasi utama di kota tersebut. Di seberang jalan, ada mobil taxi ke Sawai. Klik di sini untuk cerita perjalanan kami ke Sawai.

Lalu kami mengunjungi masjid agung Masohi yang kami lihat tadi malam. Dibandingkan dengan Masjid Al-Fattah di Ambon, bangunan masjid ini tidaklah terlalu besar. Namun, luas tanah area masjid ini sangat luas. Tempat ibadah yang paling menarik dikunjungi di tempat ini adalah Pura Mandala Giri. Waktu itu sehari sebelum Nyepi jadi banyak orang berpakaian tradisional Bali datang ke pura melakukan upacara keagamaan.



Dari tempat ibadah Hindu, kami lanjut hingga tiba di sebuah bukit dimana kami dapat melihat Tanjung Kuako yang indah dari atas. Kami tak bisa menahan hasrat untuk mengunjungi tanjung itu. Untuk ke Tanjung Kuako, kami harus turun bukit dan mengaksesnya lewat jalan menuju ke Amahai. Hal yang paling menarik dari Tanjung Kuako adalah batu di atas batu. Di samping itu, ada banyak batu dengan bentuk yang amat ceper. Jangan harap Anda akan menemukan pantai pasir putih di sini. Tanjung Kuako punya caranya sendiri untuk menarik pengunjung. Air laut yang jernih dipadukan dengan bebatuan yang terhampar liar membuat tanjung juga merupakan tempat yang bagus untuk fotografi.

Akhir kata, Masohi adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi ketika seseorang mencari tempat pelarian yang tenang. Tidak berarti pula bahwa kota ini mati. Kota ini menyediakan segala kebutuhan dasar yang dibutuhkan tanpa bonus kemacetan dan polusi.

Posting Terkait:
-Sawai, Surga yang Bersembunyi di Seram Utara

1 komentar:

  1. Terimakasih postingnya, sebaliknya saya selaku Admin Masohi News menunggu kunjungan saudara di http://www.masohinews.com

    BalasHapus