18 Juni 2014

Ke Angkor Naik Sepeda

Selamat datang di Angkor
Angkor adalah sebuah ibukota kuno Kamboja yang sekarang merupakan sebuah kompleks taman arkeologi. Artinya, tempat ini telah menjadi tempat bagi banyak reruntuhan bangunan bersejarah. Dari sekian banyak bangunan kuno yang ada, yang paling banyak dikunjungi orang pastinya adalah Angkor Wat. Nama ini seringkali secara ambigu dimaksudkan pada seluruh area di taman arkeologi ini, padahal masih banyak atraksi yang lainnya selain Angkor Wat di kompleks sini. Bagaimanapun, Angkor Wat bukan saja telah menjadi ikon utama taman arkeologi di Angkor namun juga simbol nasional Kamboja yang ditampilkan di benderanya.

Akan memakan waktu dan energi terlalu banyak untuk mengunjungi semua tempat yang tersebar di area taman arkeologi yang memiliki luas 400 km persegi ini. Apalagi kami hanya bersepeda. Akibatnya, kami harus menentukan mana tempat yang akan dikunjungi dan mana yang harus dilewatkan. Selain Angkor Wat yang pastinya wajib dikunjungi, kami masih mempunyai dua tempat lagi yang terdaftar dalam rencana perjalanan kami, yaitu Angkor Thom dan Ta Phrohm. Saya akan menunjukkan satu per satu tempat ini nanti. Tetapi sebelumnya, beberapa pembaca mungkin mengira jika kita mungkin dapat menyusup masuk area taman arkeologi tanpa membayar biaya. Saya juga sempat berpikir untuk menghindari membeli tiket masuk harian seharga $20, tetapi sayangnya jawabannya adalah TIDAK. Setiap kali kami masuk ke satu situs, ada pemeriksaan tiket oleh petugas. Jadi saudara-saudaraku (yang sepemikiran denganku), lupakanlah untuk berlaku curang di sini.
Peta Taman Arkeologi Angkor
Sumber: phnom.tistory.com
Jalan lurus menuju gerbang masuk taman arkeologi
Dikelilingi oleh parit berbentuk segi empat, Angkor Wat merupakan kuil utama dari ibukota kuno kerajaan Khmer. Masih dianggap sebagai monumen religius terbesar di dunia sampai sekarang, kuil ini awalnya dimaksudkan untuk menghormati Dewa Wisnu tetapi kemudian berubah menjadi tempat beribadah umat Buddha ketika rajanya berpindah agama. Menariknya, bangunan ini menghadap ke arah barat sementara pada umumnya kuil-kuil di Asia Tenggara menghadap ke arah timur. Lazimnya, bangunan makam lah yang menghadap ke arah barat. Atas dasar hal ini, beberapa ahli sejarah menyarankan bahwa bangunan itu dulunya pernah dipakai sebagai mausoleum atau tempat menaruh jenazah para raja. Tidak satupun yang tau pastinya. Setidaknnya untuk para pengunjung yang tidak terlalu peduli mengenai sejarahnya, Angkor Wat saat ini merupakan tempat wisata yang sangat populer untuk melihat matahari terbit maupun terbenam. Sayangnya, kami tidak melakukan kedua hal tersebut.

Seperti di Royal Palace Phnom Penh, di Angkor Wat juga ada beberapa orang lokal yang menjual barang-barang dagangan mereka dengan cukup agresif. Seorang lelaki sempat menawarkan buku panduan berbahasa Inggris tentang Angkor kepada saya. Ketika saya bilang tidak, dia terus menurunkan harganya dari $7 ke $2. Saya agak menyesal tidak jadi membeli buku itu. Harga segitu sangat murah untuk sebuah buku panduan berbahasa Inggris! Banyak anak-anak kecil di sana menjual barang-barang juga. Yang mengejutkan, mereka sangat lancar berbicara dalam bahasa Inggris. Beberapa anak bahkan menawarkan diri sebagai pemandu tidak resmi.
Jalan yang lumayan panjang untuk menuju ke kuil utama
Inilah salah satu lokasi terbaik pengambilan foto Angkor Wat

Diriku dan si penjual buku panduan di dekat sebuah gapura (kiri). Kondisi tangga kuil yang sangat terjal (kanan)
Siapa yang tahu kenapa ada lubang di bagian bokong patung ini?
Dari Angkor Wat yang merupakan kuil kerajaan, kami berdua berpindah tempat ke kota kerajaan bernama Angkor Thom. Kami masuk melalui gerbang selatan. Area seluas 9 kilometer persegi ini yang juga dikelilingi oleh parit dan dinding adalah ibukota terakhir dari Kekaisaran Khmer sebelum dihancurkan oleh pasukan Siam/Thailand. Situs yang paling penting di dalamnya adalah yang disebut dengan Terrace of the Elephants-sebuah panggung untuk menyambut pasukan yang kembali dari perang- dan Bayon Temple yang terkenal dengan ratusan patung wajah berbeda-beda mimik. Sampai pada titik ini, semuanya bisa dibilang baik-baik saja. Ya, meski udara terasa sedikit panas tetapi kami masih bisa menikmati jalan-jalan di sekitar reruntuhan dan befoto-foto ria.

Masalah mulai datang ketika kami secara keliru berakhir di gebang utara Angkor Thom. Tujuan kami berikutnya, Ta Phrohm, akan dengan mudah dijangkau dari gerbang timur. Jadi, kami sok mengambil jalur alternatif, coba mencari jalan pintas ke pintu gerbang timur. Jalannya itu melalui hutan-hutan. Perjalanan kami awalnya berjalan lancar sampai kami bertemu perbedaan ketinggian tanah yang menjadi penghalang bagi sepeda kami lewat. Untungnya, kami bertemu beberapa pekerja lokal yang dengan baik hati sudi menolong kami mengangkat sepeda kami. Kami lalu melanjutkan naik sepeda hingga beberapa kerbau muncul menghalangi jalan kami. Kami harus menunggu sebentar hingga kerbau-kerbau itu minggir. Saya sempat takut karena jika mereka merasa terancam mereka bisa menyerang kami. Selain itu, kami telah bertemu ular di negara ini beberapa kali sebelumnya dan di tempat seperti hutan ini sangat mungkin bagi kami untuk bertemu ular lagi. Kami pun sempat kehilangan arah. Namun, syukurlah sekali lagi kami bertemu orang lokal yang menunjukkan kami jalan menuju gerbang timur.
Gerbang selatan Angkor Thom
Dikelilingi wajah-wajah di Bayon
Face-to-face
Hal yang paling menakjubkan dari candi-candi kuno adalah adanya pahatan di setiap sudutnya.
 Namun beberapa relief yang ada saat ini merupakan hasil restorasi.
Dua sepeda yang sedang beristirahat.
Terrace of the Elephants
Jalan pintas off-road yang kami lalui untuk ke gerbang timur
Akhirnya kami tiba juga di Ta Prohm. Untuk mengunjungi situs ini, kami perlu memarkir sepeda agak jauh di luar lalu dilanjutkan berjalan kaki melalui hutan tropis. Selalu dihubung-hubungkan dengan film Hollywood Tomb Raider, Ta Prohm menyajikan kombinasi hehijauan dan reruntuhan kuno yang spektakuler. Pohon-pohon besar di sana yang nampak sedang melahap bangunan tua menyajikan sebuah pemandangan apik untuk dijepret. Kepopuleran tempat ini di kalangan pengunjung pecinta fotografi mengakibatkan penumpukkan kerumunan orang yang mengambil gambar di spot-spot terbaik. Jadi, pengunjung akan menghabiskan cukup banyak waktu untuk mengantri dengan pengunjung lainnya untuk mendapatkan giliran berfoto. Sayangnya, kami sudah cukup lelah setelah apa yang telah terjadi. Ditambah lagi, suhu udara yang makin bertambah panas pada saat itu. Dari tadi semenjak kami di kompleks taman arkeologi langit berawan tapi sekarang awannya sudah mulai beranjak pergi.

Banyak lagi tempat yang sebenarnya layak untuk dikunjungi di Angkor tapi sedikit pula tenaga kami yang tersisa. Penginapan kami di Siem Reap yang jaraknya berkilo-kilo dari Ta Prohm itu adalah satu-satunya tempat yang ada di benak kami untuk kami tuju selanjutnya. Tidak ada pencarian untuk jalan pintas lagi, kami kapok. Kami menggoes sepeda kami untuk pulang lewat jalan utama yang sudah jelas kemana arahnya. Seringkali kami disalip oleh mobil dan motor, ah coba saja kalau mereka memberikan kami tebengan. Kami tidak terbiasa bersepeda, jadi acara bersepeda hari ini yang kalau dihitung-hitung menempuh jarak lebih dari 25 kilometer kami rasa sangatlah melelahkan.
Banyak sekali pintu dan jendela bangunan kuno ini.

Sebuah pohon besar sedang menggerogoti bangunan kuno,
menciptakan pemandangan yang sangat menarik untuk diabadikan.
Proyek restorasi yang sedang berjalan ketika kami mengunjungi taman arkeologi cukup mengurangi kemampuan imajinasi kami untuk kembali ke masa lalu. Namun, saya  masih dapat membayangkan kebesaran Kekaisaran Khmer pada saat jayanya. Seiring dengan proyek restorasi di taman arkeologi ini yang menyusun kembali satu per satu bebatuan tua menjadi bangunan utuh, Kamboja sebagai sebuah negara sekarang sedang berjuang untuk meraih kembali kejayaannya yang dulu. Jalannya memang masih panjang. Ada kabar bahwa uang dari penjualan tiket masuk Angkor pergi ke kantong perusahaan asing. Sekalipun itu tidak benar dan jutaan dolar betul-betul pergi ke kantong pemerintah, korupsi pastilah terjadi. Hanya oknum pejabat yang bertambah kaya, sedangkan rakyat Kamboja hampir tidak mendapatkan keuntungan dari penjualan tiket. Apakah Kamboja telah mendapat gilirannya ataukah akan ada kesempatan kedua untuk kembali bersinar? Kerajaan-kerajaan di muka bumi bangkit dan runtuh. Siapa yang tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar