24 Juni 2014

Kisah Pertama di Kamboja

Monumen Kemerdekaan di Phnom Penh
Kedatangan kami di Kamboja menandai sebuah pencapaian yang signifikan bagi perjalanan kami. Ini merupakan titik awal dari bagian terakhir perjalanan panjang kami setelah bebas dari kontrak kerja selama tiga tahun di Ambon. Seperti yang dapat Anda baca di artikel-artikel sebelumya, perjalanan panjang kami ini bermula ketika kami meninggalkan Ambon dan mengeksplorasi Maros se Makassar di Pulau Sulawesi. Kemudian, bagian kedua perjalanan ini adalah ketika kami memimpin dua tur beruntun di Kuala Lumpur plus Singapura. Dan sekarang, ketika kami menginjakkan kaki di tanah Khmer untuk pertama kalinya, tiba saatnya untuk dimulainya perjalanan pribadi kami di luar negeri.

Ini merupakan kunjungan pertama kami ke sebuah negara yang secara ekonomi lebih miskin daripada negara sendiri. Pendapatan per kapita Kamboja kurang lebih hanya separuh Indonesia. Akan tetapi, mata uang lokal mereka riel bernilai kurang lebih tiga kali lipat lebih daripada rupiah. Yang lebih menarik, riel dipakai bersamaan dengan dolar AS untuk segala macam transaksi di Kamboja. Malah pada kenyataannya, dolar AS lebih menonjol keberadaannya dibanding dengan riel itu sendiri. Tidak ada uang koin yang beredar di sana, sehingga riel-lah yang memainkan peran uang receh. Contohnya, ketika kita membeli sesuatu di Kamboja seharga 1,5 dolar menggunakan pecahan 2 dolar, maka kita akan menerima uang kembalian sebesar 2000 riel (1 dolar AS dipatok senilai 4000 riel). Nampaknya hal ini sering dijadikan sebagai contoh soal dalam pelajaran Matematika di sekolah-sekolah di Kamboja.

Penampakkan jalan di Phnom Penh dengan kabel listriknya yang sangat semerawut.
Salah satu contoh bangunan era kolonial berarsitektur Perancis di Phnom Penh yang terawat dengan baik.
Phnom Penh tidak punya banyak gedung tinggi, kecuali menara yang satu ini.
Setelah paspor kami mendapat stempel masuk dari petugas imigrasi, kami langsung berjalanan keluar gerbang bandara internasional Phnom Penh yang cukup mungil guna menghindari segala bentuk jebakan betmen transportasi, karena pada saat itu sama sekali belum ada transportasi publik yang tersedia baik di bandara maupun di dalam kota. Jadi, untuk pilihan transportasi hanya tersedia taxi, ojek, becak, dan tuktuk. Di luar pagar bandara, kami dapat dengan mudah menemukan ojek yang sedang mangkal.

Kami cukup mendapatkan sensasi aneh ketika melihat semua orang berkendara di sisi kanan. Bagaimanapun, negara ini adalah tempat pertama dengan sistem kemudi di lajur kanan yang pernah kami kunjungi. Sensasi tersebut dilengkapi dengan rasa sempit-sempitan naik ojek bertiga satu motor. Sebenarnya konsep boncengan bertiga ini bukanlah hal baru bagi kami, sebab banyak juga dijumpai di dalam negeri. Namun kali ini terasa lebih tidak nyaman karena di atas motor itu selain tiga orang, ada juga tas yang berat. Lalu saya juga agak merasa takut tertangkap polisi karena kami melalui jalan utama. Tapi setelah melihat banyak sepeda motor yang lainnya pun ditunggangi tiga orang, saya jadi yakin bahwa tidak akan ada petugas yang menghentikan kami.

Boncengan bertiga satu sepeda motor betul-betul membuat badan kami pegal. Untung saja jarak dari bandara ke pusat kota tidaklah terlalu jauh, jika tidak pasti kaki kami sudah keram. Memasuki area pusat kota, sang supir ojek kelihatan agak bingung dengan letak penginapan kami. Konon katanya, banyak dari mereka yang baru saja datang dari kampung ke ibukota sehingga mereka tidak tahu banyak mengenai seluk-beluk kota. Jadi daripada tersiksa lebih lama lagi di atas motor tanpa ada kepastian sampai di tempat yang tepat, kami putuskan untuk turun saja di salah satu sudut di pusat kota. Lalu dengan bantuan peta kota yang sudah kami unduh sebelumnya, kami akhirnya dapat menemukan penginapan kami sendiri.

Becak juga merupakan salah satu moda transportasi di Phnom Penh.
Beberapa tuk-tuk yang kami temui di jalan didesain secara unik seperti yang satu ini.
Tidak memiliki transportasi publik berakibat pada tingginya biaya untuk bergerak dari satu titik ke titik lainnya di dalam ibukota Kamboja ini. Para penyedia transportasi seperti tuk-tuk kerap kali mematok tarif yang terlalu tinggi bahkan untuk perjalanan jarak dekat. Daripada pusing-pusing tawar-menawar dengan supir tuk-tuk, banyak pelancong yang memilih untuk menyewa kendaraan harian. Inilah yang nantinya kami lakukan di Siem Reap.

Lain halnya dengan akomodasi. Biaya menginap di kota-kota Kamboja termasuk sangat murah. Sungguh, ini merupakan salah satu dari sedikit hal yang baik negara ini punya. Penginapan yang kami inapi kali ini merupakan penginapan murah dengan biaya di bawah 10 dolar semalam. Dengan biaya segitu, kami sudah dapat meninggali kamar yang besar serta nyaman dengan fasilitas kamar mandi dalam, TV dan akses internet. Letaknya yang berada di lantai tiga tanpa ada lift merupakan satu-satunya kekurangan kamar ini.
Setelah rehat sejenak, kami keluyuran menyusuri Sisowath Quay, yang merupakan taman kota di pinggir sungai yang cukup ramah bagi pejalan kaki. Di seberang ujung taman adalah halaman depan Royal Palace. Di sinilah kami janji ketemuan dengan teman kami orang Kamboja yang bernama Vannak. Dia merupakan seorang couchsurfer sama seperti kami. Seperti yang telah ia janjikan sebelum kami datang ke Kamboja, Vannak membawa kami ke sebuah warung makan sederhana dan mentraktir kami makan Num Pang, sejenis roti panjang (baguette) berisi daging dan sayur. Sederhananya, Num Pang adalah roti isi khas Kamboja. Yang membuat kami awalnya penasaran dengan makanan ini adalah nama makanan itu yang terdengar seperti kata 'numpang' dalam Bahasa Indonesia.
Makan Num Pang
Warung makan khas Vietnam dengan kursi-kursi mungilnya
tidaklah sulit ditemukan di Phnom Penh.

Pada malam hari, kami berjalan pulang lewat Independence Monument, yang menjadi salah satu ikon ibukota seperti halnya Monas di Jakarta. Seperti namanya, tugu ini didirikan sebagai peringatan akan kemerdekaan Kamboja dari penjajahan Perancis pada tahun 1953. Namun malangnya, setelah kemerdekaan negara ini mengalami perang saudara yang amat membinasakan. Oleh karenanya, selain daripada kuil-kuil kuno, para pengunjung di Kamboja juga disuguhkan pengalaman unik wisata horor dengan mengunjungi tempat-tempat bekas pembantaian/penyiksaan massal seperti The Killing Fields of Choeung Ek dan Tuol Sleng Genocide Museum. Sayangnya karena keterbatasan waktu, kali ini kami tidak sempat mengunjungi tempat-tempat mengerikan tersebut.

Selain daripada sejarah (kerajaan kuno dan perang saudara) dan juga budaya, salah satu alasan berkunjung ke Kamboja adalah untuk kehidupan malamnya yang liar. Banyak turis seks (kebanyakan orang bule) melihat negara ini sebagai destinasi alternatif selain Thailand yang letaknya hanya bersebelahan. Harga alkohol di Kamboja yang murah juga mendukung industri dunia malam di sini. Tentunya kami tidak tertarik pada hal-hal seperti itu, jadi untuk saat ini kami kembali ke penginapan saja untuk beristirahat dengan cukup karena esok hari kami masih memiliki beberapa agenda kunjungan di ibukota Kamboja ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar