28 Juni 2014

Kisah Sehari di Bangkok


Dan perjalanan panjang kami telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa menghantarkan kami ke depan pintu gerbang kepulangan kami ke tanah air. Sebuah kisah sehari di Bangkok menjadi penutup manis rentetan perjalanan yang bermula dari Maros-Makassar, kemudian ke Malaysia-Singapore, lalu ke Kamboja ini.

Sekitar tengah hari, kami berangkat dari Siem Reap, Kamboja, menuju ke kota perbatasan Poipet. Minivan yang kami tunggangi menjemput kami langsung dari guesthouse tempat kami menginap. Perjalanan Siem Reap-Poipet memakan waktu sekitar tiga jam, namun kami tidak merasa bosan sama sekali karena sambil ngobrol seru dengan Bunnek, orang Kamboja ramah yang juga naik minivan itu. Sesampainya di perbatasan, sebenarnya belum terlalu telat untuk kami melintas ke Thailand, tapi kami memilih untuk menghabiskan malam di rumah sepasang bule couchsurfer yang cukup dekat dari pintu perbatasan. Inilah satu-satunya aksi couchsurfing kami selama kurang lebih dua minggu ini jalan-jalan, setelah sebelumnya kami hanya menginap di guesthouse dan hotel.

Couchsurfing dalam arti yang sebenarnya, yaitu numpang tidur di sofa

Bersama host kami Andre dan Whitney di Poipet
Kisah sehari di Bangkok dimulai di sini
Hari berikutnya pada jam 7 pagi, kami melintasi perbatasan Poipet-Aranyaprathet. Kondisinya sedang sangat padat, kebanyakan dipenuhi oleh pekerja asal Kamboja yang hendak pergi ke Thailand. Begitu menyadari bahwa kami bukanlah salah satu dari para pekerja itu melainkan turis, salah seorang petugas perbatasan langsung menawarkan 'jasa ekspres' secara terang-terangan. Meskipun kami menolak tawaran tersebut, tetap saja kami dipindahkan ke antrean turis yang jauh lebih pendek. Ini cukup membantu meskipun tidak menyelesaikan semua masalah yang ada. Sebab, antrean imigrasi masuk ke Thailand pun juga sangat panjang. Alhasil, di perbatasan ini kami membuang waktu sekitar dua jam.

Kalau saja proses melintasi perbatasannya lebih cepat, kami bisa menumpang bus kasino yang nyaman dan murah untuk ke Bangkok. Tapi sekarang kami harus mengambil pilihan lainnya, yaitu naik minivan lokal yang pangkalannya terletak beberapa ratus meter saja berjalan kaki dari pintu keluar imigrasi Aranyaprathet. Saya sebut minivan lokal karena transportasi ini sebenarnya lebih diperuntukkan bagi orang lokal, dapat dilihat dari tidak adanya tulisan berbahasa Inggris sama sekali di sana. Transportasi macam inilah yang benar-benar diharapkan oleh pelancong seperti kami yang selalu menyukai pengalaman otentik lokal daripada menjadi turis pada umumnya.
Namun demikian, minivan yang kami naiki dari perbatasan itu mengambil dan menurunkan penumpang di sepanjang jalan, jadi bagi mereka yang ingin cepat sampai di Bangkok ini bukanlah cara yang terbaik. Kami juga sempat diberhentikan beberapa kali oleh pihak militer saat melintasi titik-titik penjagaan. Negara ini memang baru saja mengalami kudeta militer sehingga atmosfer sosial politiknya masih terasa cukup tegang. Kalau saja kami datang ke sini beberapa bulan lebih awal, situasinya lebih mengkhawatirkan lagi. Ketika itu, banyak jalan di Bangkok ditutup oleh massa kelompok kaus merah dan kaus kuning yang berdemonstrasi dan parahnya kebanyakan demonstrasi berujung pada kekerasan yang membawa korban jiwa.
Minivan ke berbagai macam destinasi di Thailand mangkal beberapa ratus meter dari pintu perbatasan.

Seluruh penumpang harus turun dari kendaraan ketika pengisian ulang bahan bakar gas dilakukan.
Sekitar jam 2 siang, kami akhirnya sampai di Bangkok. Kami diturunkan di dekat stasiun BTS Bang Na atas permintaan. Kami pun tak yakin dengan tujuan akhir minivan itu, tapi secara teori kemungkinan besar di salah satu terminal utama ini; Mo Chit, Ekkamai, atau Sai Tai Mai.

Hal pertama yang kami lakukan begitu menapakkan kaki di Bangkok adalah makan siang, sesungguhnya dari tadi kami sudah kelaparan! Amat membahagiakan tanpa lama mencari kami langsung bisa menemukan makanan murah meriah di sini, dan hal terbaiknya kami tidak perlu membayar dalam dolar AS seperti di Kamboja. Meskipun ini pertama kalinya kami ke Bangkok, tapi kami sudah pernah ke Thailand sebelumnya, tepatnya ke Hat Yai. Jadi kami tahu betul kalau makanan Thailand itu enak dan murah.

Setelah makan siang, kami menemukan fakta menarik dari Bangkok yang meskipun merupakan ibukota Thailand tapi banyak penduduknya yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, sama seperti yang kami temukan dulu di Hat Yai. Contohnya, ketika kami berinteraksi dengan ibu-ibu penjaga kedai makanan tempat kami makan siang tadi, kami hanya mengandalkan bahasa isyarat saja. Berjalan keluar warung makan, kami bertanya arah pada seorang perempuan muda yang kami harapkan lebih bisa berbicara bahasa Inggris, tapi ternyata juga tidak. Meski ia mengerti pertanyaan kami, tapi ia menjawab balik dalam bahasa Thailand. Inilah salah satu hal yang membuat kunjungan ke Thailand selalu menarik!

Dengan arahan perempuan yang tadi kami tanyai itu akhirnya kami berhasil menemukan stasiun BTS. Kami pun langsung naik skytrain menuju mal Mahboonkrong (MBK) yang terkoneksi langsung dengan stasiun BTS National Stadium. Sebenarnya ongkos skytrain tidaklah terlalu murah jika dibandingkan dengan transportasi sejenis di tempat lain di Asia Tenggara, misalnya LRT di Kuala Lumpur maupun MRT di Singapura. Sekali jalan ongkosnya 15 sampai 52 Baht. Oleh karenanya, tiket unlimited satu hari seharga 140 Baht sungguh amat layak dibeli.

MBK langsung saja mencuri hati kami karena pusat perbelanjaan ini sangat ramah terhadap pelancong asing dengan menyediakan layanan gratis titip bagasi dan bahkan memberikan kaos gratis (dengan syarat menunjukkan foto di majalah Air Asia). Mulai dari tempat ini, kami berdua berpisah karena Kristin sedang dapat bulan dan juga sudah sangat capek. Jadinya saya keluar sendirian untuk mengeksplorasi The Big Mango untuk pertama kalinya.

Makan murah dan'aroi' (enak) di Bangkok
MBK hanyalah salah satu dari banyak mal di area Siam
Saat ini akan saya beri tahu bagaimana caranya saya berkeliling Bangkok sendirian hanya dalam waktu dua atau tiga jam saja namun dapat mencakup banyak atraksi utamanya. Rute ini sangat efisien sehingga cocok bagi mereka yang transit di Bangkok dan punya waktu yang terbatas. Pertama-tama, penting untuk membuat MBK menjadi homebase karena lokasinya yang sentral dan layanan titip bagasi gratisnya. Tak jauh dari mal tersebut, saya berjalan kaki ke tempat perhentian perahu kecil namanya Saphan Hua Chang. Naik perahu mengarungi kali bernama Klong Saen Saep ini sangatlah murah, bau sekaligus cocok untuk bertualang. Turun di perhentian terakhir, Panfa Leelard, yang hanya berjarak 4 perhentian saja, saya langsung menemukan Mahakan Fort yang merupakan dua benteng yang tersisa dari total 14 benteng yang tadinya dibangun untuk melindungi kota tua Bangkok dari segala potensi serangan pihak musuh. Di dekat benteng ada Wat Ratchanatdaram beserta Loha Prasat yang hadir sebagai atraksi lainnya yang juga layak mendapat sorotan.

Sedang asyik menikmati pemandangan tempat-tempat wisata tersebut, tiba-tiba seorang supir tuk-tuk yang mangkal di sana menawarkan saya jasa transportasinya untuk ke beberapa tempat wisata di sekitar area kota tua, tapi saya menolaknya dengan halus karena sudah banyak baca soal penipuan tuk-tuk di buku-buku panduan wisata Bangkok.
Perhentian perahu ekspres di Khlong Saen Saep
Saat perahunya datang
Suasana di dalam perahu
Mahakan Fort
Wat Rachanatdaram dan Loha Prasat
Disambut oleh setidaknya dua atraksi begitu baru saja turun dari perahu, saya lalu merasa yakin untuk pergi lebih jauh ke jantung Rattanakosin (sebutan untuk area kota tua Bangkok). Saya berjalan terus menuju Democracy Monument sampai mendapat Khlong Rop Khrung lalu belok kiri mengikuti khlong alias parit tersebut. Mulai ragu apakah berada pada jalan yang benar, saya memberanikan diri bertanya pada petugas polisi dimana letak Grand Palace yang menjadi atraksi utama di Rattanakosin. Seperti yang telah diduga, polisi ini tidak berbicara bahasa Inggris tapi ia sangat membantu dengan bahasa isyaratnya. Sesuai petunjuk, saya melintasi parit tersebut dan terus berjalan sedikit lagi hingga Grand Palace kelihatan. Kunjungan ke Bangkok tidaklah lengkap tanpa masuk ke Grand Palace, sayangnya saat itu saya tidak bisa masuk karena sudah tutup. Tapi saya cukup puas bisa sampai ke sini di tengah-tengah waktu yang sempit ini.
Democracy Monument, sebuah tugu yang penting di area Rattanakosin

Masyarakat Bangkok sedang menunggu bus di satu titik perhentian bus.
Armada bus di Bangkok terlihat sangat tua, terkesan seperti pada era 80-an,
namun demikian pemberhentiannya jelas, tidak menurun-naikkan penumpang di manapun seperti halnya di Indonesia.

Khlong Rop Khrung yang airnya gelap tetapi bebas dari sampah

Kementrian Pertahanan Thailand, letaknya tepat di seberang Grand Palace
City Pillar Shrine di dekat Grand Palace, yang sebenarnya juga didapati di setiap kota Thailand.
Orang Thailand percaya kalau kuil semacam ini perlu dibangun sebagai dasar dari pendirian sebuah kota baru.

Berbagai jenis kendaraan, dari mobil, sepeda motor, taksi, bus dan tuk-tuk melintas di depan Grand Palace

Taman yang rapih dan menyenangkan di seberang pintu masuk Grand Palace
Taman tersebut punya air mancur dan banyak burung loh!
Jalan sempit menuju dermaga perahu Tha Chang
Di dekat Grand Palace ada dermaga kecil beranama Tha Chang. Dari situlah saya naik perahu yang lebih besar menyusuri sungai Chao Phraya. Rute perahu-perahu yang melintas di sungai ini ditandai oleh warna benderanya. Butuh beberapa waktu hingga perahu berbendera oranye yang hendak saya naiki itu datang. Saya turun di Saphan Taksin yang juga disebut Central Pier karena keterhubungannya dengan stasiun BTS. Akhirnya, saya naik skytrain kembali ke MBK. Dengan perahu kecil di Saen Saep, perahu yang lebih besar di Chao Phraya, dan skytrain, kemacetan Bangkok yang terkenal parah itu kini dapat dihindari.
Sungai Chao Phraya yang sejak dulu dimanfaatkan untuk transportasi.

Perahu-perahu yang melintas di Chao Phraya bukan hanya perahu khusus turis, tapi digunakan sehari-hari oleh masyarakat lokal juga. Di antara perahu-perahu tersebut, perahu berbendera oranye-lah yang paling banyak digunakan.
Wat Arun nampak dari perahu

Tiba kembali di MBK waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Saya baru sadar kalau dari tadi Kristin ditinggal sendirian tanpa memegang apapun. Seluruh uang dan bahkan paspornya saya yang pegang! Bagaimanapun sekarang kami sudah bersama lagi tanpa kurang suatu apapun. Masalah yang tersisa hanyalah mengejar penerbangan pulang kami dari Bandara Suvarnabhumi yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota. Kami langsung buru-buru naik skytrain ke Phaya Thai lalu lanjut naik kereta bandara ARL yang jalurnya berujung di bandara. Setibanya di Bandara Suvarnabhumi, kepanikan reda karena sama sekali tidak ada antrean di konter cek-in maupun di imigrasi. Kami pun terbang pulang ke tanah air dan mengakhiri perjalanan non-stop sepanjang 15 hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar