16 Juni 2014

Makassar untuk Pertama Kalinya


Pemandangan sore hari dari Pantai Losari, Makassar
Saya sudah menyukai Makassar bahkan sebelum mengunjunginya. Alasannya karena akses dari bandara ke pusat tempat wisata menggunakan transportasi umum cukup baik. Cukup dengan menumpang Bus DAMRI  seharga Rp 25.000 per orang, kita sudah sampai di dekat Bundaran RRI. Dari situ tempat-tempat penting seperti Jalan Jampea (Chinatown), Fort Rotterdam, dan Lapangan Karebosi dapat ditempuh dengan berjalan kaki saja.

Namun perjalanan kami hari ini tidak dimulai dari bandara tempat bus ini berangkat. Malam sebelumnya kami menginap di Jalan Poros Maros-Makassar. Dari sana memang ada banyak angkot (yang di sini disebut pete-pete) yang lewat. Namun jika naik pete-pete harus turun di Terminal Daya lalu pindah kendaraan. Sedangkan untuk masalah ongkos, supir pete-pete terkadang menggetok harga jika tahu kita adalah pendatang. Jadi kami putuskan saja untuk kembali ke bandara dengan menggunakan layanan antar-jemput gratis milik hotel lalu naik Bus DAMRI ke pusat kota Makassar.
Halte tempat Bus DAMRI bandara berhenti. Inset: Bundaran RRI.
Bus DAMRI yang kami tumpangi hanya berisi beberapa orang saja. Mungkin karena waktu itu masih cukup pagi. Supir busnya dengan baik hati mau mengantarkan kami hingga tepat di depan hotel tempat kami menginap yang sebenarnya sedikit melenceng dari rute bus. Bahkan ia ikut turun dan membantu membawakan barang-barang bawaan kami menyeberang jalan hingga masuk ke dalam hotel. Tadinya saya kira karena dia sedang mencari penghasilan tambahan, tapi ternyata ia tidak mengharapkan imbalan.

Setelah menaruh barang bawaan kami di hotel, kami tak sabar untuk langsung keluar melihat-lihat Kota Makassar. Fort Rotterdam-lah yang menjadi korban pelampiasan pertama dari nafsu traveling kami. Selain letaknya yang dekat, saya pikir akan sangat menarik jika mempelajari dulu sedikit sejarah sebuah daerah sebelum mengeksplorasinya lebih jauh. Uang masuk kompleks benteng didasarkan pada sumbangan sukarela pengunjung. Namun untuk masuk ke Museum La Galigo yang ada di dalamnya, pengunjung diwajibkan membayar Rp 5.000 per orang.
Pintu Masuk Fort Rotterdam
Bangunan-bangunan di bagian dalam benteng
Museum La Galigo yang berisi koleksi benda-benda bersejarah
Kondisi dalam museum yang sunyi sepi
Sebuah taman kecil di luar tembok benteng
Vandalisme, sesuatu yang biasa ditemukan di tempat-tempat wisata Indonesia
Duduk di atas tembok benteng
Museum lain yang terletak tidak jauh dari benteng nampak kurang begitu terawat.
Selain wisata sejarah, wisata pantai juga merupakan andalan pariwisata Kota Makassar. Pantai Losari merupakan yang paling terkenal di kota ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki saja dari Fort Rotterdam. Dari pantai ini pengunjung dapat melihat matahari terbit di pagi hari dan matahari tenggelam di sore hari. Rasanya memang tak afdol kalau sudah ke Makassar tak mampir ke sini. Tak pelak, sore itu pun Pantai Losari sangat ramai pengunjung. Namun sangat disayangkan banyak pengunjung tidak dapat menjaga kebersihan tempat wisata ini.
Jajanan di sepanjang Pantai Losari
Pantai yang kotor
Ramai pengunjung
Pengunjung Losari dihibur oleh berbagai pertunjukan seni daerah
Masjid Terapung di Pantai Losari
Padatnya arus lalu lintas di pinggir pantai
Tentu Makassar bukan hanya Pantai Losari dan Fort Rotterdam saja. Daya tarik lain dari kota terbesar di bagian timur nusantara ini adalah makanannya. Begitu hari mulai gelap, kami menjauh dari hiruk pikuknya daerah pesisir. Sekarang adalah urusan perut. Menikmati mie titi yang lezat adalah agenda penutup hari ini. Mie titi merupakan salah satu makanan khas, mungkin bisa dibilang ifumie-nya Makassar. Keesokan harinya sebelum berangkat ke Kuala Lumpur, kami beruntung masih memiliki waktu setengah hari di kota ini untuk berwisata kuliner di area Karebosi. Konro adalah makanan yang wajib dicoba, meskipun harganya cukup tinggi untuk pelancong berkantong tipis seperti kami. Konro yang kami coba adalah versi kering dari sup konro yang disebut konro bakar. Iga sapi dibakar lalu diberi bumbu khas yang rasanya membuat kami kangen dan selalu ingin kembali ke Makassar.

Mie Titi
Di depan Lapangan Karebosi
Jalan Jampea yang merupakan Chinatown
sekaligus pusat penginapan backpacker-nya Makassar
Papan nama jalan di Makassar ditulis dalam huruf kuno juga.
Iga sapi sedang dibakar untuk dijadikan konro



Tidak ada komentar:

Posting Komentar