25 Juni 2014

Naik Tuk Tuk Keliling Phnom Penh

Mengawal pagoda utama Wat Phnom yang dikawal oleh dua patung penjaga.
Pada artikel sebelumya telah diceritakan tentang kedatangan kami di Kamboja untuk pertama kalinya. Baru kali ini kami mengunjungi negara yang ekonominya lebih tidak berkembang dibandingkan Indonesia. Salah satu hal yang membuat keterpurukan ekonomi tersebut jelas adalah dari ketiadaan transportasi umum di dalam kota. Absennya transportasi umum ini tentunya sangat berpengaruh pada cara kami sebagai pelancong dengan anggaran terbatas menjelajahi ibukota Kamboja.

Kami berpikir bahwa menyewa kendaraan kelihatannya merupakan pilihan terbaik, jadi kami berencana untuk menyewa sepeda. Bukan perkara mudah untuk menemukan tempat penyewaan sepeda di Phnom Penh. Setelah mondar-mandir lumayan lama, akhirnya kami menemukan satu tempat yang menyewakan sepeda. Harga yang ditawarkan terlalu tinggi sehingga kami mengurungkan niat kami itu. Saat beranjak dari tempat tersebut, tiba-tiba terbesit sebuah ide yang nampaknya lebih baik, yaitu menyewa tuk-tuk beserta dengan supir. Dengan begitu, kami tak perlu capek-capek menggenjot pedal sepeda di bawah panasnya sengatan matahari. Di saat yang sama, kami sekaligus mendapatkan pengalaman naik tuk-tuk khas Kamboja. Tapi untuk di pagi hari ini, mumpung belum terlalu panas, kami jalan kaki dulu ke Wat Phnom.

Wat Phnom yang secara historis dianggap sebagai titik nolnya kota Phnom Penh merupakan tempat yang cocok untuk memulai penjelajahan. Didirikan pada tahun 1373, kuil kuno ini dibuat setelah seorang wanita menemukan empat patung Buddha di dalam sebuah batang pohon yang mengambang di sungai. Wanita tersebut bernama Penh, yang akhirnya menjadi asal muasal nama Phnom Penh. Penduduk lokal dapat masuk keluar kuil secara gratis, namun orang asing diwajibkan membayar uang masuk $1 per kepala. Kami pun dengan jujur membayar uang masuk tersebut meski sekalipun kami melintas begitu saja mungkin dikira sebagai orang Kamboja.
Wat Phnom dibangun di sebuah bukit buatan, itu berarti kami mesti naik tangga untuk sampai ke sana. Saat kami naik tangga ke pagoda utamanya, seekor ular kecil tiba-tiba jatuh dari pohon tepat di depan kami! Saya amat yakin kalau ular itu beracun, nampak jelas dari warnanya. Untung saja ular tersebut tidak menyakiti kami. Ia langsung lari dengan cepat meninggalkan kami. Kalau ular itu tidak lari, pasti kami lah yang lari.

Bersama dengan singha, naga (ular berkepala tujuh) merupakan mahkluk mitologi yang disakralkan di Kamboja. Kedua kata ini tidaklah asing di telinga orang Indonesia karena kita juga punya kedua kata tersebut dalam perbendaharaan kata kita. Bagaimanapun, Indonesia dan Kamboja sama-sama adalah negara yang mendapatkan pengaruh kuat dari India. Patung-patung singha dan naga lazim ditemukan baik di kuil-kuil, istana, jembatan maupun gedung-gedung umum non-religius lainnya. Mereka dipandang sebagai penjaga bukannya ancaman. Mungkin karena itulah orang Kamboja tidak membunuh ular (dan itulah  mengapa kami bertemu ular di Wat Phnom ini!).

Sesaat sebelum kami naik tangga dan mengalami fenomena ular jatuh (kiri)
Stupa utama Wat Phnom (kanan)

Interior pagoda utama dihiasi berwarna-warni dengan cerita agama Buddha dan Ramayan versi Khmer.
Jam raksasa di bagian bawah bukit Wat Phnom.
Selanjutnya, kami berjalan cukup jauh di bawah sengatan matahari, dari kuil ke Phsar Thmey atau yang lebih dikenal dengan nama Central Market. Di sini kami membeli krama, kain bercorak kotak-kotak khas Kamboja yang serbaguna. Ini merupakan oleh-oleh yang mesti dibeli di Kamboja. Namun, daya tarik utama Phsar Thmey bukanlah barang-barang yang dijual di sana melainkan gedungnya itu sendiri. Dibuka pada tahun 1937, bangunan fisik pasar memiliki arsitektur Art Deco yang unik dan sangat menarik perhatian.

Di area pasar ini dan sekitarnya, ada banyak penukar valuta asing yang mematok kurs dolar AS lebih tinggi daripada 1:4000 riel. Jadi, lebih baik tukarkan dolar AS kita ke Riel di sini sebelum bertransaksi jual beli.
Di sekitar pasar juga terdapat beberapa pool bus antar kota, salah satunya adalah milik perusahaan Sorya dimana kami memesan tiket ke Siem Reap untuk keberangkatan siang hari ini. Nah, sekarang tiket bus sudah di tangan, saatnya tiba untuk cek-out dari penginapan dan keliling-keliling terakhir kalinya sebelum meninggalkan ibukota mungil ini.

Melalui salah satu dari empat cabang jalan utama Central Market dengan berbagai toko di kedua sisinya. (kiri)
Kubah Central Market dilihat dari dalam. Di bagian dalam pasar, ada banyak penjual perhiasan dan emas. (kanan)
Asyik itu adalah ketika udara sangat panas di luar sana, berhenti sejenak di cafe ber-AC sambil menikmati milkshake dingin (gara-gara ada promo beli 1 gratis 1).
Ada banya tips perjalanan untuk berkunjung ke Kamboja, salah satu yang terpenting adalah selalu negosiasikan soal harga di awal tiap kali sebelum naik tuk-tuk. Penumpang harus benar-benar membuat kesepakatan yang jelas mengenai rute, tujuan dan biaya. Perlu kembali ditegaskan, bahwa jumlah biaya yang disepakati adalah biaya total, bukan per penumpang. Itu yang kami lakukan sebelum menyewa tuk-tuk. Tak ada kendala berarti dalam bahasa namun kami tetap perlu mengulang rencana perjalanan kami beberapa kali untuk memastikan tur keliling kota kami berjalan seperti yang direncanakan sebelumnya. Kami juga sekalian membawa tas kami ke atas tuk-tuk sehingga nanti kami tidak perlu repot-repot kembali lagi ke penginapan untuk mengambilnya.

Dengan menunggangi tuk-tuk ini, kami berharap untuk mengoptimalkan sisa waktu yang kami punya sebelum pergi ke Siem Reap. Pertama-tama, kami kembali menuju ke Independence Monument yang telah kami kunjungi tadi malam. Kamera kami tidak cukup bagus untuk mengambil gambar di sini saat malam hari, sedangkan di siang bolong ini pencahayaannya jauh lebih baik dan kami juga punya si pengendara tuk-tuk sebagai juru foto. Lalu, kami juga kembali ke halaman depan Royal Palace dimana kami bertemu dengan teman kami tadi malam. Tempat ini cukup indah dengan hehijauan yang rapi dan burung-burung kecil yang berkeliaran, namun sayangnya banyak tukang jualan liar yang sangat mengganggu.
Di seberang Independence Monument
Di halaman depan Royal Palace.
Wajah kemiskinan nampak di depan Royal Palace yang menjadi kebanggaan rakyat Kamboja.
Anak-anak kecil menjual makanan burung, sedolar sebungkus kecil. 
Kemudian tuk-tuk yang kami tumpangi pun melintasi Sisowath Quay dimana kami dapat menikmati pemandangan Sungai Tonle Sap di sisi sebelah kanan. Sedangkan sisi sebelah kiri merupakan barisan hotel, cafe dan restoran. Kali ini kami memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak uang untuk makan di salah satu restoran tersebut. Untuk makan makanan paling murah di Kamboja biasanya orang harus merogoh kocek sebesar $2, jumlah yang tidak terlalu murah jika dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Di restoran atau cafe yang lumayan bagus seperti yang saat ini kami kunjungi makanan murahnya rata-rata dipatok sekitar $5-7. Kami memilih menu amok untuk makan siang; sejenis nasi dengan santan ditaburi dengan ikan, umumnya dihidangkan di atas selembar daun pisang. . Seperti halnya tom yum di Thailand dan pho di Vietnam, amok adalah makanan ikoniknya Kamboja.
Setelah makan siang, kami melintasi jalan di depan Wat Phnom tapi tidak untuk mengunjungi kuil tersebut kembali. Tujuan kami adalah untuk ke mesin isi ulang air minum yang ada di dekat sana. Mengisi ulang air minum merupakan salah satu strategi berhemat ketika jalan-jalan. Terlebih lagi, harga air mineral di Kamboja tidak begitu murah (lagi-lagi gara-gara pakai dolar!). Akhirnya, tuk-tuk tersebut menghantarkan kami ke pool bus antar kota dan sekarang kami cukup menunggu detik-detik keberangkatan ke Siem Reap!
Untuk menemukan mesin seperti ini, jalan menjauh dari Wat Phnom
menyebrangi jembatan yang dijaga oleh dua patung naga.
Bersama Bapak Sonny, supr tuk-tuk yang kami sewa. Sepertinya 'Sonny' bukanlah nama asli, tapi nama pergaulan agar orang non-Kamboja dapat dengan mudah mengucapkan namanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar