26 Juni 2014

Siem Reap Minus Angkor Wat

Angkor Wat, destinasi nomor wahid di Kamboja.
Pada suatu waktu, segerombolan pasukan Siam yang terdiri lebih dari 10,000 orang menyerbu masuk ke wilayah kekuasaan Khmer namun kemudian mereka berhasil ditaklukkan oleh rakyat Khmer di bawah pemerintahan Raja Ang Chan. Pimpinan pasukan tersebut pun tewas terbunuh dan pasukan Siam yang tersisa semuanya ditawan. Kisah ini menjadi dasar nama kota 'Siem Reap' yang berarti 'Siam dikalahkan'. Terkesan ada sebuah kebanggaan tersendiri bagi orang Kamboja dengan menyatakan inilah tempat dimana pasukan Siam mengalami kekalahan total. Akan tetapi, kebanyakan sejarahwan dunia meragukan akurasi historis dari cerita ini.

Bagaimanapun sejarah yang sebenarnya, yang pasti tentang Siem Reap adalah bahwa kota ini telah menjadi sangat populer di kalangan wisatawan mancanegara. Berdasarkan data, ada lebih banyak wisatawan asing di sini dibandingkan di Phnom Penh yang notabenenya adalah ibukota negara. Alasannya sederhana, yaitu karena Angkor Wat yang terkenal itu jaraknya hanya beberapa kilometer saja di utara kota kecil ini. Jadi jika Angkor Wat adalah alasan utama mengapa turis datang ke Siem Reap, bukankah lucu jika turis yang pertama kali datang ke sini malah enggan melakukan kunjungan ke Angkor? Nyatanya kami masih menyimpan kemungkinan tersebut loh di benak kami ketika kami sedang dalam perjalanan ke sana.
Perjalanan menuju Siem Reap

Lihatlah aplikasi Google Map, Anda akan mendapat informasi bahwa perjalanan dari Phnom Penh ke Siem Reap dapat ditempuh dalam waktu 5 jam setengah lewat darat. Tapi berdasarkan pengalaman kami, perjalanan antar dua kota tersebut bisa memakan waktu hingga 8 jam. Bus yang kami tumpangi memang sempat berhenti untuk penumpang makan dan istirahat ke toilet (meski di dalam bus juga ada toiletnya), tapi kedua hal ini tidaklah terlalu berpengaruh dalam menambah waktu perjalanan. Kualitas jalan penghubung yang buruk merupakan faktor utama yang paling bertanggungjawab membuat perjalanan ini menjadi lebih lama daripada seharusnya. Kondisi di beberapa ruas jalan antara kedua kota memang sering kali berlubang serta penuh lumpur. Ketika bertemu jalanan yang tidak mulus, kadang-kadang supir bus mengurangi kecepatan kendaraannya namun tak jarang pula segala lubang yang ada dihajarnya begitu saja. Saya bertaruh umur bus ini tidak akan lama jika diperlakukan seperti demikian. Di lain sisi, jika bus tidak menerjang jalanan rusak dengan kecepatan normal, kami pasti akan sampai di Siem Reap lebih telat lagi.

Kami mencoba mengalihkan perhatian kami dengan memerhatikan rekaman video musik lokal Kamboja yang ditayangkan lewat layar kaca di atas bus. Tapi pandangan kami seringkali malah teralihkan ke layar jendela bus yang menampilkan kondisi riil bangasa ini yang dilanda dengan kemiskinan yang sistematis sebagai hasil dari perang berkepanjangan di masa lalu dan pemerintahan negara yang korup di masa kini. Ada banyak tanah kosong tak terurus di samping sawah yang jumlahnya hanya beberapa petak saja. Konon, masih ada jutaan ranjau aktif akibat dari perang saudara lalu yang bertebaran. Mungkin itu karena takut terkena ranjau darat, orang jadi enggan membuka lahan baru untuk pertanian. Kebanyakan buku panduan wisata juga memperingatkan para pelancong untuk tidak berkeliaran di luar jalan-jalan yang memang sudah jelas.
Tanah kosong penuh semak belukar
Banyak turis asing yang bersama kami di dalam bus menuju Siem Reap.
Waktu menunjukkan jam setengah sebelas malam sementara hujan turun sangat lebat ketika bus kami mencapai garis finis. Pemberhentian terakhir bus-bus dari luar kota adalah di sebuah terminal yang letaknya sedikit di luar kota. Dari situ, cukup repot untuk pergi ke mana-mana apalagi ketika hujan dan gelap seperti ini. Pastilah para turis menjadi mangsa empuk bagi para supir tuk-tuk kemahalan yang mangkal di sana. Kami sengaja memesan kamar di penginapan yang menyediakan jemputan gratis dari terminal bus itu. Memang ternyata kebanyakan penginapan di Siem Reap menyediakan layanan jemputan gratis dari terminal bus ataupun bandara. Tanpa layanan ini sekalipun harga akomodasi di Siem Reap sudah terbilang sangat murah. Yang kami dapatkan ini harganya kurang dari $10 per malam dengan kamar yang luas seperti di hotel berbintang. Kekurangannya hanya satu, yaitu tamu harus melepas alas kaki sementara lantai di dalam hotel tidak selalu dalam keadaan bersih. Sesaat sebelum bus benar-benar berhenti, dari balik jendela saya menyadari ada seorang supir tuk-tuk sedang memegang papan bertuliskan nama saya, dengan ejaan yang salah. Jadi yang dimaksud dengan jemputan gratis adalah supir tuk-tuk sewaan penginapan.
Bus yang kami tumpangi ke Siem Reap ketika berhenti di tempat peristirahatan.
Penginapan tempat kami menginap memiliki halaman depan yang cantik disertai dengan kolam ikan.
Hari berikutnya kami mengelilingi kota. Tidak seperti di Phnom Penh, di sini dengan mudahnya kami menemukan penyewaan sepeda. Harga sewanya sekitar $1-2 per unit sepeda. Kami hanya membutuhkan waktu sebentar untuk berlatih berkendara di sisi kanan. Begitu terbiasa, kami langsung menuju destinasi pertama kami di kota ini. Wat Preah Prohm Rath, sebuah kuil di pinggir sungai di dekat Old Maket, selalu diulas secara positif oleh buku-buku wisata dan bahkan diakui oleh beberapa orang sebagai kuil terindah di Siem Reap. Saya pun agaknya setuju dengan anggapan tersebut. Kompleks kuil ini memiliki kebun yang berwarna-warni dan menarik dilihat mata. Namun begitu sadar bahwa di kebun itu ada banyak ular hidup melingkar-lingkar di tanaman, kami langsung menjauh! Di dalam salah satu gedung biara terlihat beberapa anak kecil sedang mengikuti kelas. Konon di dalam salah satu gedung di kompleks kuil ini ada patung Buddha tidur yang cukup besar. Tapi kami agak segan untuk masuk lebih jauh. Kalau saja ada pengunjung lain saat itu, pasti kami akan lebih merasa nyaman melangkah. 

Replika kapal yang diceritakan dalam legenda Wat Preah Prohm Rath
Kebun yang berwarna-warni penuh dengan ular
Ada nuansa Hindu di dalam kuil Buddha ini
Selanjutnya, kami berhenti di Angkor National Museum yang terletak di sebelah utara kota. Tetapi, setelah tahu kalau uang masuknya $12 per orang, kami tidak jadi masuk. Saya sangat mencintai sejarah tapi jumlah segitu saya rasa terlalu mahal untuk sebuah museum. Jadi kami mengayuh pedal sepeda kami lebih jauh ke utara dan akhirnya di situ hati kami baru mantap untuk pergi ke Angkor Wat. Awalnya kami ragu masuk ke kompleks taman arkeologi tersebut karena harga tiketnya cukup mahal, yaitu $20 per hari. Tapi setelah dipikir-pikir, ini bukan saatnya untuk pelit. Orang memang jauh-jauh datang ke Siem Reap demi Angkor Wat.

Kami memutuskan untuk makan siang terlebih dulu sebelumnya meski saat itu belum tengah hari, berpikir bahwa makanan di area turis seperti Angkor Wat pastinya akan jauh lebih mahal. Di warung makan tempat kami makan siang ini, kami hanya membayar $2 per porsi sementara minuman dan es disediakan secara cuma-cuma. Kami juga mampir ke toko kelontong dulu untuk membeli stok air minum sebelum masuk ke zona turis. Cerita mengenai Angkor Wat akan ditulis di artikel lain. Jika tidak, judul pos kali ini akan menjadi omong kosong belaka. Jadi, untuk saat ini mari kita lewatkan saja bagian Angkor dari perjalanan ini.
Angkor National Museum
Mengisi energi di warung makan sederhana sebelum menjelajahi Angkor Wat
Lompat ke malam hari ketika kami sudah kelelahan akibat menjelajahi reruntuhan kuil kuno di kompleks Angkor yang sangat luas itu, kami menghadiahi diri kami sendiri dengan makanan yang layak di sebuah restoran dekat Psar Chas alias Old Market. Harga makanan yang kami maksud dalam kategori layak ini adalah sekitar $3-7. Setelah makan malam selesai, kami berjalan kaki menyusuri Pub Street yang terletak juga tak jauh dari Old Market. Jalan ini bisa dibilang merupakan pusat kehidupan malam kota. Hampir setiap kota destinasi populer turis di dunia memiliki tempat seperti ini untuk memenuhi kebutuhan pengunjung (terutama bule). Bukan sebuah kejutan besar mengapa kami merupakan satu-satunya orang Asia yang duduk nongkrong di sebuah bar bernama A Triple Club ini. Sebelumnya di pagi hari, ketika melihat ada iklan pertunjukan tarian Apsara gratis di jalan, saya cepat-cepat membuat reservasi melalui telepon. Ketika tiba di lokasi, kami langsung disambut pelayang lalu diantarkan ke meja terdepan dari panggung yang telah dipasangkan kertas reservasi nama saya. Hanya dengan memesan dua gelas bir, kami diperlakukan bak orang penting saja. Punya kesempatan untuk menonton pertunjukan tari tradisional Kamboja seperti ini sangatlah sepadan dengan uang yang kami keluarkan.
Makanan-makanan khas Kamboja yang kami coba di restoran ketika makan malam.

Beberapa dari menu restoran ini merupakan versi barat dari makanan Kamboja, misalnya
dengan memasangkan lawuk dengan kentang goreng dan bukannya nasi.

Hiruk pikuknya pusat hiburan malam Pub Street

Para penari Apsara sedang tampil di panggung

Dua gelas bir produksi lokal yang menemani kami menonton tarian Apsara
Masih ada banyak lagi tempat menarik untuk dikunjungi di Siem Reap dan sekitarnya. Sebut saja Landmine Museum, Cambodia War Remnant Museum, Wat Thmei, Angkor Silk Farm, Tonle Sap, Banteay Srei, serta berbagai lokakarya dan galeri. Kita juga bisa mengunjungi Stengmai Village dimana komunitas minoritas Champa-Melayu yang beragama Islam bermukim. Itu berarti ada banyak masjid dan restoran halal di sekitarnya. Nah, ternyata ada banyak sekali tempat untuk dikunjungi di Siem Reap. Meski demikian, tetap saja kunjungan ke Siem Reap tanpa ke Angkor Wat tidaklah lengkap.
Di akhir pertunjukan, saya mendapat kesempatan berfoto bersama dengan para penari Apsara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar