15 Juni 2014

Perjalanan Dimulai di Maros

Setelah menyelesaikan kontrak kerja 3 tahun kami di Ambon sebagai guru, kami menghadiahkan diri kami dengan jalan-jalan selama setengah bulan. Perjalanan kami bermula di Maros, Sulawesi Selatan. Kami sudah pernah ke Pulau Sulawesi beberapa kali sebelumnya, tapi hanya untuk transit di Bandara Sultan Hasanuddin. Secara bandara tersebut adalah hub yang menghubungkan penerbangan-penerbangan dari dan ke kota-kota di timur Indonesia, termasuk Ambon.

Sebuah desa terpencil area pegunungan karst di Maros
Jika berbicara soal Maros, tujuan wisata yang paling mainstream adalah Taman Nasional Bantimurung. Tapi waktu kami browsing tempat-tempat di Maros, ada tempat lain yang mencuri hati kami. Tempat itu menyajikan pemandangan alam yang sangat luar biasa seperti yang dilihat pada gambar di atas.

Setibanya di bandara, kami langsung menelpon hotel tempat kami menginap, menagih layanan jemputan gratisnya. Hotel tersebut terletak hanya 10 menit dari bandara, tepatnya di jalan utama penghubung kota Maros dan Makassar. Beristirahat sejenak di kamar hotel, kami lantas keluar memulai eksplorasi kami. Salah satu staff hotel menawarkan jasa penyewaan motor seharga Rp 250.000 untuk setengah hari. Bagi kami itu kemahalan. Jadi kami putuskan saja untuk naik angkot yang di sini disebut pete-pete.

Dari jalan raya di depan hotel kami naik angkot pete-pete jurusan Pangkep, melintasi Kota Maros, lalu turun di pertigaan Bosowa. Dari situ sebenarnya kami dapat jalan kaki ke destinasi pertama kami; Dermaga Rammang-Rammang. Namun, karena waktu itu tengah hari dan panas sekali kami putuskan untuk naik ojek. Ongkos per orangnya Rp 7.500 pp. Dari dermaga, kami menyewa perahu seharga Rp 150.000 pp. Kalau saja lebih banyak orang ikut dengan kami, ongkos per orangnya pasti jadi lebih murah.
Dermaga Rammang-Rammang, tempat kami naik perahu

Bertiga di atas perahu

Kelihatan mirip seperti Delta Mekong di Vietnam

Beberapa rumah adat Sulawesi menghiasi pinggir sungai

Pantulan gambar yang cukup sempurna dihasilkan oleh air sungai yang sangat bening
Di atas perahu, kami harus tetap duduk manis guna mempertahankan keseimbangan. Bergerak terlalu banyak dapat mengakibatkan kami semua tercebur ke Sungai Pute. Artinya dalam menikmati pemandangan sepanjang perjalanan kami harus tetap tenang dan tidak bertingkah yang macam-macam. Banyak hal yang kami lihat di jalan membuat kami penasaran. Namun setiap kali kami bertanya pada si juru mudi perahu, kami tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Aksen berbicaranya sungguh tidak jelas. Hampir setiap kata dalam Bahasa Indonesia yang dia ucapkan tidak dapat kami mengerti. "Di sini sih buaya gak ada," katanya. Kalimat itu hanya salah satu dari sedikit yang sampai di telinga kami dengan jelas.

Kami tidak sendirian. Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan orang lain.
Ada yang naik perahu kecil maupun panjang.

Melewati kolong jembatan. Awas kepala!



Perahu yang kami tumpangi juga sempat masuk gua




Setelah sekitar 15 menit perjalanan, tibalah kami di sebuah desa terpencil bernama Berua. Tidak ada akses jalan ke desa ini. Itu membuat suara bising kendaraan bermotor tidak terdengar. Persawahan dengan berdindingkan perbukitan nan hijau membuat pemandangan di wilayah ini sangat menakjubkan. Matahari yang tadinya memancar terik tiba-tiba bersembunyi di balik awan, seolah-olah memberikan kami kesempatan untuk terjun ke tengah alam terbuka. Kami lantas berfoto-foto di tempat ini dan akhirnya kesulitan memilah foto mana saja yang layak dimasukkan dalam tulisan ini.

Jalan berkeliling, kami pun melewati beberapa rumah warga yang dapat dihitung dengan jari. Kelihatannya enak juga tinggal di tempat yang tidak padat penduduk seperti ini. Kami berusaha untuk menyapa setiap penduduk setempat yang kami temui. Mereka pun membalas sapaan kami dengan sangat ramah. Hidup di tempat seperti ini kelihatannya sederhana, namun di sisi lain bisa jadi sangat sulit juga di tengah terbatasnya akses ke fasilitas publik.







Bapak yang mengemudikan perahu sewaan kami tinggal di desa ini. Sementara kami berfoto-foto, ia pulang ke rumahnya untuk makan siang. Ketika kami sudah puas, ia pun keluar dari rumahnya untuk kembali ke dermaga. "Sudah siap?" , tanyanya. Kalau mau jujur sih, aku belum siap untuk meninggalkan tempat seindah ini. Selama ini aku telah hidup terlalu jauh dari alam. Bahkan memperhatikan aktivitas seekor kerbau dan kawanan bebek di desa ini sangatlah menghibur. Namun, ada hal lain yang harus dilakukan hari ini. Jadi kami menjawabnya dengan "Ya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar