3 November 2015

Ujung Itu Bernama Tanjung Nusaniwe


Halo para pembaca, saat ini saya akan membahas tentang tempat yang ada di belakang saya ini.
Berdasarkan pengertian sederhananya, tanjung adalah daratan yang menjorok ke laut. Sebagai pulau berbentuk mirip tengkorak manusia purba, Ambon memiliki beberapa tanjung seperti Tanjung Alang dan Tanjung Marthafonz. Keduanya cukup popular di kalangan penduduk lokal dan turis. Tapi ada satu tanjung lagi yang akan dibahas di sini. Ketika penduduk Kota Ambon berkata "tanjung", biasanya itu mengacu pada Tanjung Nusaniwe. Terletak di Desa Waimahu di sebelah selatan Pulau Ambon, tanjung ini menjadi pintu masuk bersama dengan Tanjung Alang di seberangnya. Setiap kapal yang datang dan keluar pelabuhan harus melewati celah ini. Lihatlah peta di bawah ini agar lebih jelas.
Peta Pulau Ambon
Konon meski singkat, ada kalanya ketika celah antara Tanjung Nusaniwe dan Tanjung Alang tertutup sehingga kapal-kapal maupun perahu tidak dapat berlayar masuk ke Ambon. Saat itu juga kondisi perairan di sekitar teluk Ambon menjadi ganas dan kabut tebal turun mengurangi jarak pandang. Ketika peristiwa seperti ini terjadi maka para pelaut yang kebetulan sedang belayar di sekitar sana akan berhenti dan langsung melepaskan pakaian mereka untuk dilemparkan ke dalam laut. Mereka percaya hal itu wajib dilakukan untuk menghindari bencana karena dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada suami istri yang dikutuk oleh para leluhur menjadi batu -yang satu di Tanjung Nusaniwe dan satunya lagi di Tanjung Alang- yang dikatakan sedang bersetubuh ketika peristiwa alam yang terdengar gaib ini terjadi.

17 Juni 2015

Menempuh Hidup Baru ke Johor Bahru



Sky Screen Johor Bahru

Hanya berselang tiga hari setelah menikah, kami berdua melakukan perjalanan bulan madu ke luar negeri. Johor Bahru adalah kota pertama yang kami kunjungi dari rangkaian honeymoon trip ini. Alasan mengapa kami memilih Johor adalah karena pada saat itu penerbangan langsung Yogyakarta-Johor Bahru merupakan 'jembatan' termurah bagi kami yang tinggal di Purwokerto untuk ke luar negeri. Akibat kurangnya peminat rute ini, tak jarang pulang pula kursi penerbangan diobral secara percuma oleh Air Asia. Dari Bandara Internasional Senai, Johor, disediakan bus gratis ke pusat kota JB Sentral bagi penumpang Air Asia, membuat pilihan penerbangan ini menjadi lebih ekonomis lagi. JB Sentral merupakan terminal bus yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan modern dan juga perlintasan untuk menyeberang ke Singapura. Hotel-hotel bagus Johor Bahru pun dapat ditempuh dengan berjalan kaki saja dari sini, seperti halnya hotel bintang 4 yang kami inapi malam ini. Biasanya saat traveling bersama, kami menginap di penginapan murah ataupun menumpang di rumah orang lokal menggunakan aplikasi Couchsurfing, namun karena perjalanan kali ini sangat spesial kami memanjakan diri dengan menginap di Puteri Pacific Hotel yang hraganya murah sekali untuk hotel sekelasnya. Dengan promo, kami hanya membayar kurang dari 100 ringgit! Fasilitas di hotel ini sungguh top, cocok untuk ber-staycation.
 
The Puteri Pacific Hotel, Johor Bahru

Kenyamanan hotel ini menggoda kami untuk menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan saja di kamar hotel, tapi sayang juga jika kota ini sama sekali tidak dieksplorasi. Ketika hari sudah gelap, kami pun berjalan keluar makan sup kambing yang mantap di pusat kuliner Meldrum Walk. Lalu setelah makan, kami sempat mengunjungi pasar malam. Di sana ada barang-barang super murah seperti pakaian, jajanan, serta barang elektronik. Saya membeli flashdisk seharga 10 ringgit tapi kualitasnya sangat buruk, langsung rusak dalam beberapa pakai. Pasar malam ini buka di sepanjang Jalan Segget dan Jalan Tan Hiok Nee. 

Kami menyusuri pasar malam hingga ujung lalu mendapati area pusat pemerintahan Johor dimana gedung-gedung seperti Majelis Bandaraya, Mahkamah Tinggi dan Pejabat Pos berada. Area tersebut dipenuhi oleh lampu warna-warni yang didesain menarik. Tak ketinggalan juga ada sky screen yang merupakan layar monitor yang menudungi jalan raya yang ramai dilalui kendaraan bermotor. Belum puas berbelanja, namun sayangnya saat itu sudah cukup larut sehingga mal-mal seperti City Square, Komtar JBCC, dan UTC Johor (yang terkoneksi langsung dengan hotel kami) sudah tutup.

Makan sup kambing dan minum teh tarik di tengah keramaian Meldrum Walk (kiri).
Red House yang terletak di tengah-tengah pasar malam yang sunyi (kanan).

Terang benderang di depan kantor pemerintahan Johor
Keesokannya, kami memanfaatkan fasilitas hotel hingga jam cek-out. Kami beruntung saat itu sedang tidak ada tamu hotel lain yang berenang sehingga kolam renang hotel ini seperti kolam renang pribadi kami. Keluar dari hotel saat tengah hari, kami sempat mengira akan susah cari makan karena ini adalah hari pertama Puasa. Secara, negara bagian Johor ini terkenal cukup Islami, dapat dilihat dari penggunaan huruf Jawi (huruf Arab untuk menulis bahasa Melayu) di setiap nama jalan dan bangunan pemerintah dan juga hari Jumat sebagai hari libur resmi kantor-kantor pemerintahan. Namun kami keliru. Pemerintah Malaysia nampaknya cukup memiliki pemikiran yang terbuka. Di seberang Roufo Old Chinese Temple yang letaknya tak jauh dari hotel, ada foodcourt yang jualan seperti biasa. Bahkan ternyata kebanyakan tempat makan lainnya pun tetap buka dan mereka tidak  perlu menutupi tempat jualan mereka dengan kain. Jadi, di Malaysia itu puasa wajib hukumnya bagi orang Melayu saja. Jika Anda tidak berpuasa dan terciduk polisi agama di sana, tunjukkan paspor dan katakanlah bahwa Anda bukan orang Melayu.

Bangunan Sultan Ibrahim, salah satu bangunan tua yang menjadi ikon Johor Bahru

Masih ada banyak tempat menarik lainnya di Johor Bahru seperti Legoland Malaysia, Hello Kity Town, dan Angry Bird Activity Park yang semuanya dapat diakses dengan mudah dari JB Sentral. Sayangnya, waktu kami di sini telah habis. Kami menuju ke Terminal Bus Larkin yang kondisinya masih kumuh seperti terminal-terminal bus di Indonesia untuk naik bus ke destinasi kedua; Melaka.