21 Juni 2016

Kembali ke Bangkok

Selfie bersama Kak Anggalia, senior sekaligus returning customer kami
Reuni memang merupakan hal menyenangkan karena saat itulah kita memiliki kesempatan bernostalgia dengan teman-teman lama kita. Buat seorang pengusaha seperti saya, reuni dengan pelanggan lama merupakan sebuah kebahagian tersendiri. Seseorang menjadi returning customer karena sebuah alasan, yaitu puas dengan produk yang telah dikonsumsi sebelumnya. Pelanggan sekaligus senior kami yang dulu pernah ikut tur TRAVELdonk ke Singapura sebelumnya kali ini ikut jalan-jalan ke Bangkok, Thailand. Ini adalah sebuah tur eksklusif baginya karena hanya beliau seorang yang kami bawa serta.

Ada dua maskapai berbiaya rendah yang melayani penerbangan langsung ke Bangkok dari Indonesia, yaitu Air Asia Indonesia dan Thai Lion Air. Keduanya menjadikan Bandara Don Mueang sebagai pintu masuk dan keluar Bangkok. Kali ini kami berkesempatan mencicipi naik Thai Lion Air yang dalam beberapa aspek menggungguli Air Asia, di antaranya adalah bagasi dan makanan ringan gratis. Setelah menembus derasnya antrean imigrasi Don Mueang, kami langsung mengambil bus A2 menuju pusat kota. Rute bus ini melewati beberapa stasiun BTS dan terakhir berhenti di Victory Monument. Area ini mencakup persimpangan lalu lintas yang penting, stasiun BTS, sekaligus tempat pemberhentian bus-bus dan minivan lokal. Yang terpenting di sini kita dapat menemukan makanan dan barang-barang dengan harga lokal.
Di Victory Monument
Tak dipungkiri lagi bahwa Bangkok adalah tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi. Namun, musuh utama bagi para pelancong di kota metropolitan ini adalah terik mataharinya yang ganas. Kami adalah orang-orang yang sudah kenyang dihujani panasnya sinar matahari dan tidak berniat menghitamkan kulit. Jadi kami memutuskan untuk langsung menuju hotel dan beristirahat di sana hingga matahari menyembunyikan wajahnya.

Untuk mencapai hotel kami naik BTS Sukhumvit Line lalu lanjut berjalan kaki sekitar 800 meter. Perlu diketahui bahwa Sukhumvit adalah jalan terpanjang di Thailand (malah mungkin di dunia!). Jalan ini memiliki beberapa cabang jalan (soi) yang ditandai dengan angka tapi juga beberapa memiliki nama sendiri. Misalnya Sukhumvit Soi 55 disebut dengan nama alias Thong Lo. Di area inilah kami menginap. Di sini berjejer cafe serta bar yang banyak di antaranya bernuansa Jepang karena memang banyak orang Jepang tinggal di area ini. Menginap di Thong Lo merupakan alternatif bagi mereka yang tidak begitu senang kehidupan malam dan ingin kamar yang tidak berisik seperti di Khao San. Jarak ke Terminal Bus Ekammai dari sini pun cukup dekat (dapat ditempuh dengan berjalan kaki 20 menit, seperti yang kami lakukan di keesokan hari).
Selain cafe-cafe, street food juga menjamur di area Thong Lo
Seorang pengunjung Kuil Erawan
sedang berlutut  membaca doa
sambil diiringi oleh para penari
Setelah gelap, kami keluar hotel dan mulai mengeksplorasi kota Bangkok. Pertama-tama kami mengunjungi Kuil Erawan yang terletak di Chidlom. Kuil ini ramai dikunjungi orang karena lokasinya yang strategis dan keistimewaannya. Di tengah-tengah masyarakat Thailand yang mayoritas Buddha, kuil ini didedikasikan untuk Dewa Brahma yang patungnya bercatur muka. Lebih banyak orang penasaran untuk datang ke sini setelah pada tahun 2015 di kuil ini terjadi ledakan bom yang menewaskan 20 orang dan melukai lebih dari 100 orang.
Gajah-gajah emas di Kuil Erawan
Berikutnya kami menyeberangi jalan raya untuk sampai ke mal terbesar di seantero Thailand, yaitu Central World. Mal ini dimiliki oleh CPN yang juga membawahi banyak mal lainnya seperti Central Festival dan Central Plaza di seluruh pelosok negeri. Jika sempat berkunjung ke kota-kota lain di Thailand, sempatkanlah untuk mampir ke mal-mal ini karena biasanya mereka memberikan fasilitas yang menguntungkan turis. Contohnya pada saat dulu saya pergi ke Udon Thani, saya dapat mengklaim kartu SIM gratis hanya dengan menunjukkan paspor. Lalu juga pada saat di Chiang Mai, saya memanfaatkan fasilitas free shuttle ke bandara yang disediakan oleh mal.
Di seberang Central World
Tempat yang kami kunjungi selanjutnya juga merupakan pusat perbelanjaan, tapi mal ini lain daripada yang lain. Asiatique the Riverfront, begitulah nama mal tersebut. Terletak di pinggir Sungai Chao Phraya, tempat ini paling mudah dijangkau dengan shuttle boat gratis yang tersedia di Saphan Taksin. Pusat perbelanjaan ini didesain dengan begitu menarik dan konsepnya adalah menggabungkan pasar malam dengan mal. Jadi bangunannya bisa dibilang separuh indoor. 

Baru sebentar kami asyik berburu barang-barang murah di sana, hujan turun. Memang bagian yang menjual pakaian bukanlah bagian yang terkena hujan. Tapi bagaimanapun kami memutuskan untuk segera pergi dari sana sebelum kalap berbelanja karena kami tahu masih ada tempat yang lebih murah lagi. Di Asiatique the Riverfront bukanlah tempat yang paling tepat untuk berbelanja banyak barang, namun tempat ini sangat layak dikunjungi karena memberikan banyak hal mulai dari pengalaman mengarungi Sungai Chao Phraya sampai penyegaran bagi mata pengunjungnya.
Di atas shuttle boat menuju Asiatique the Riverfront
Ada banyak lokasi bagus untuk berfoto ria di Asiatique the Riverfront,
tapi bagi kami yang paling wajib difoto adalah bianglalanya.
Guna memahami Bangkok secara utuh, kami berencana untuk mengunjungi salah satu lokasi 'panas' di ibukota Thailand ini, yaitu Patpong. Tapi rupanya langit tidak mengizinkan anak-anak baik seperti kami untuk pergi ke sana. Ketika kami sudah sampai di BTS Silom, hujan masih sangat deras. Padahal untuk ke Patpong, kami harus berjalan kaki sedikit dari stasiun BTS itu. Lapak-lapak pasar malam yang biasanya memenuhi jalur pejalan kaki di sekitar area itu pun terkena dampak hujan. Hampir tidak ada pembeli yang mendatangi mereka. Apa boleh buat, kunjungan ke area hiburan malam Patpong kami batalkan. Tapi toh besok kami akan datang ke Pattaya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar