22 Juni 2016

Ketika Anak Baik-Baik Pergi ke Pattaya

Pemandangan kota Pattaya
Pattaya merupakan kota pinggir pantai yang berkembang pesat akibat pariwisata. Letaknya yang hanya sekitar 100 kilometer dari Bangkok membuat kunjungan ke kota ini umumnya dikombinasikan dengan paket perjalanan ke Bangkok, seperti halnya tur eksklusif yang TRAVELdonk adakan saat itu. Kunjungan satu hari ke Pattaya merupakan agenda kami di hari kedua tur ini (untuk catatan hari pertama dapat dibaca di sini).

Kami berangkat ke Pattaya dengan cara yang murah dan nyaman, yaitu menggunakan bus milik pemerintah dari Terminal Ekkamai. Harga tiket untuk perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 2 jam ini hanya 108 Baht per orang sekali jalan. Bus berhenti di terminal bus yang terletak di Jalan North Pattaya. Ketika turun di sini kami menghiraukan tawaran calo-calo songthaew yang mangkal di situ dan langsung berjalan ke luar area terminal. Baru beberapa langkah saja ke arah timur terminal, kami menemukan semacam pusat informasi turis dimana kami dapat meminta informasi maupun peta secara gratis. Lalu dari situ kami lanjut berjalan sedikit lagi hingga lampu merah pertigaan dan menyeberang untuk naik songthaew berwarna putih yang menyusuri Jalan Sukhumvit ke arah selatan menuju Pattaya Floating Market.

Songhthaew di Pattaya
Songthaew atau angkot khas Thailand memang memegang peranan kunci dalam urusan transportasi umum di Pattaya. Pemerintah setempat sempat meluncurkan bus kota tapi kemudian tak kedengaran lagi keberadaannya karena kalah pamor dengan songthaew. Dalam hal menggunakan songthaew, calon penumpang mesti tahu terlebih dahulu tips dan triknya. Jika Anda naik songthaew dari terminal bus, kemungkinan besar ongkosnya akan digetok tinggi, kadang-kadang hingga seharga tiket bus Bangkok-Pattaya! Kalau Anda naik songthaew kosong yang melintas di tengah jalan ada kemungkinan dianggap mencarter sehingga kena ongkosnya pun mahal. Meskipun demikian, penumpang lainnya tetap bisa naik turun sepanjang rute ke destinasi kita. Nah, yang paling aman adalah menyetop songthaew yang sudah berisi penumpang sehingga ongkos yang akan kita bayar flat yaitu 10 Baht (untuk songthaew biasa) dan 20 Baht (untuk songthaew berwarna putih).
Di depan loket masuk berbayar Pattaya Floating Market
Beberapa turis sedang mengantri giliran naik ke atas perahu
Sepanjang perjalanan kami menyusuri Sukhumvit Road dengan songthaew, kami dihujani sinar matahari dan debu. Kami pun dikagetkan oleh sebuah billboard besar di pinggir jalan utama yang tak luput dari pengamatan kami. Papan tersebut yang menampilkan iklan bergambar syur. Ya, seperti itulah Pattaya! Ini belum apa-apa, nanti ketika gelap banyak hal yang lebih menghebohkan lagi. Sampai-sampai ada ungkapan seperti ini; "Anak baik pergi ke surga, anak nakal pergi ke Pattaya."

Setibanya di Pattaya Floating Market, kami kaget bahwa untuk ke bagian dalam dibutuhkan tiket masuk yang tidak murah. Karena namanya floating market alias pasar terapung, kami pikir layaknya sebuah pasar orang dapat bebas keluar masuk. Nyatanya tempat ini bukanlah pasar lokal yang kemudian ramai dikunjungi pendatang, tetapi memang sengaja didesain khusus untuk turis. Cukup mengecewakan bagi orang-orang seperti kami yang menginginkan keautentikan pengalaman lokal. Oleh karenanya, kami hanya menghabiskan sedikit waktu di beberapa bagian luarnya yang dapat diakses tanpa tiket masuk.

Persis di seberang Pattaya Floating Market terdapat tempat wisata lainnya, yaitu Dinosaur Park. Kami menyeberangi jalan raya tapi tidak masuk ke tempat itu, melainkan masuk ke sebuah gang di dekat situ untuk mengisi perut kami di warung makan lokal. Bukan hanya perut yang diisi tapi juga botol-botol minum kami yang telah kosong. Pasalnya, di gang ini terdapat mesin isi ulang air minum. Mesin seperti ini tersebar di seluruh negeri dan menjadi salah satu andalan bagi pelancong hemat seperti kami.

Setelah makan siang, kami terus berjalan menyusuri gang yang panjangnya kira-kira 1 km itu hingga tiba di Pantai Jomtien. Pantai ini dikenal masih lebih asri dibandingkan Pantai Pattaya sendiri yang sudah terdegradasi kualitasnya akibat pengelolaan yang buruk di masa lalu. Menyusuri Pantai Jomtien yang cukup panjang ini (sekitar 6 km) dengan berjalan kaki memang memungkinkan. Tapi berhubung matahari masih terik, kami memutuskan untuk naik songthaew sambil menikmati pemandangan pantai dari atas kendaraan.
Semangat pun kembali ketika tiba di Pantai Jomtien
Pantai Pattaya yang sekarang tidak begitu menarik
Kami diturunkan di kaki Bukit Pratumnak sebuah bukit yang memisahkan antara Jomtien dan Pattaya. Berjalan kaki naik ke puncaknya seperti yang kami lakukan sama sekali tidak mustahil karena jaraknya tidak terlalu jauh dan tanjakannya tidak terlalu terjal. Tempat di atas bukit ini yang paling terkenal adalah kuil Wat Phra Khao Yai yang ada patung Buddha raksasanya, sehingga bukit ini juga sering disebut Big Buddha Hill. Tapi sebelum ke sana, kami mampir sebentar ke kuil Wang Sam Sien yang bercorak Tiongkok di sampingnya karena kebelet buang air. Tips: toilet di sini gratis, sedangkan di Big Buddha toiletnya berbayar.

Wat Phra Khao Yai juga berisi banyak patung Buddha lainnya dengan berbagai pose. Masing-masing pose mewakili satu hari. Yang paling menonjol di antaranya adalah patung Buddha gendut yang perutnya berlubang. Pengunjung kuil terlihat mencoba melemparkan koin ke dalam lubang tersebut. Juga terdapat patung Buddha kurus kerontang yang terlihat kelaparan. Selain patung-patung, di sini pengunjung juga bisa melihat pemandangan dari atas. Namun sebenarnya spot terbaik untuk melihat pemandangan kota bukanlah dari sini, melainkan di Pattaya Viewpoint. Dari Wat Phra Khao Yai, kami cukup jalan sedikit kembali turun ke persimpangan lalu ambil jalan yang menanjak cukup terjal. Tidak sulit untuk menemukan jalan ini karena biasanya banyak rombongan tur juga menuju ke tempat ini, terutama menjelang matahari terbenam. Adapun foto pemandangan kota Pattaya di awal postingan ini diambil dari Pattaya Viewpoint.
Sebuah taman di kuil Tiongkok Wang Sam Sien
cukup menyegarkan raga di tengah-tengah udara yang panas dan lembab.
Patung Buddha Besar di Wat Phra Khao Yai merupakan yang terbesar di daerah sekitarnya.

Peserta sedang mendapat penjelaskan mengenai kuil yang dikunjunginya.
Pahatan patung Buddha di area bawah kuil yang nampak belum sepenuhnya selesai

Tapak kaki Buddha yang juga menjadi daya tarik di Wat Phra Khao Yai.
Pengunjung kuil menaruh dan mendirikan koin di sela-sela garisnya.

Dengan latar belakang pemandangan kota
Sayang peristiwa matahari terbenam kala itu tidaklah spektakuler karena langit sedang tertutup awan. Kami pun turun dari Bukit Pratumnak lewat sisinya yang menghadap ke Pattaya dan berjalan kaki hingga ke Walking Street. Jalan ini dinamakan demikian karena dikhususkan bagi pejalan kaki, terutama ketika hari gelap. Di sinilah pusat dari kemaksiatan Pattaya. Orang alim dipastikan selalu berkata astagfirullah ketika berada di sini. Gambar serta tulisan vulgar sudah menjadi hiasan umum di sini. 

Ketika kami berada di sana, hari baru saja gelap sehingga kebanyakan klub-klub malam baru saja buka. Kami melihat para pekerjanya yang berdoa dengan khusyuk agar bisnis malam ini berjalan lancar. Gadis-gadis berpakaian seksi pun sudah mulai kelihatan bersiap-siap, beberapa di antaranya gadis jadi-jadian. Beberapa klub malam lainnya cukup tertutup sehingga tidak memungkinkan diintip dari luar. Lagipula jika berkesempatan masuk ke dalam, jangan berpikir untuk mengambil gambar. Hal itu dilarang keras dan jika melanggar bisa berakibat fatal.
Berfoto di depan sebuah bar di Walking Street yang sedang mempertontonkan Thai Boxing
Lagi asyik menikmati suasana Walking Street, tiba-tiba seorang pria menghampiri saya. Ia menawarkan jasa pijat yang pastinya plus-plus. Tapi saya tolak dengan halus. Sebelum bertambah malam dan kehidupan di sini semakin liar, kami pun segera berjalan meninggalkan Walking Street. Tapi jangan disangka dengan meninggalkan jalan ini, kami tidak menemukan lagi sesuatu yang 'panas'. Bagaimanapun ini masih di Pattaya! Kami melihat di sepanjang jalan pantai, mainan seks dijual di pinggir jalan begitu saja. Astaga! Anak nakal pastinya suka tempat ini...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar