28 Juni 2016

Mandalay dan Sekitarnya

Pemandangan Mandalay
Menyadari banyak tempat menarik di sekitar Mandalay yang tidak terjangkau oleh sepeda, hari ini kami menyewa sepeda motor dari hotel tempat kami menginap. Pertama-tama kami menuju ke Mandalay Hill alias Bukit Mandalay yang batal kami kunjungi kemarin meskipun kami sudah sempat sangat dekat dengan pintu masuknya. Jalan menanjak ke Bukit Mandalay tidaklah terlalu panjang namun cukup menantang jika Anda menempuhnya menggunakan sepeda tak bermotor. Sebagai alternatif, ada pula 1.729 anak tangga dari kaki bukit yang dapat didaki, bahkan katanya ada eskalator (namun kami tidak menemukannya).

Setibanya di lokasi, kami memarkir sepeda motor sewaan kami dan bergegas menuju pintu masuk utama dimana lagi-lagi kami harus melepas alas kaki kami sebelum menaiki tangga. Bukit Mandalay dianggap sebagai tempat suci karena konon Sang Buddha semasa hidupnya pernah berkunjung ke sini dan bernubuat bahwa akan ada sebuah kota besar yang didirikan di atas kaki bukit tersebut. Ironisnya, di sisi kanan dan kiri tangga banyak ditemui orang berjualan pernak-pernik sehingga tempat ini terkesan komersial. Untuk masuk ke tempat ini pun pengunjung harus membayar 1.000 kyat, tapi entah mengapa tidak ada yang menagih iuran ini kepada kami. Jadi kami tidak bisa banyak protes, apalagi setibanya di atas kami dihadiahi sebuah pemandangan indah kota Mandalay.


Biksu-biksu kecil terlihat sedang melakukan semacam ritual kepada patung secara bergantian

Pilar-pilar bangunan Pagoda Sutaungpyi yang berada di Mandalay Hill
Dari tempat parkir, pengunjung dapat menggunakan lift yang langsung menuju ke hal utama kuil

Di sinilah titik awal untuk naik 1.729 anak tangga ke Bukit Mandalay

Tujuan kami selanjutnya adalah Air Terjun Dee Dote (Dee Doke) yang letaknya sekitar 50 km di sebelah tenggara kota Mandalay. Pertama-tama, kami harus mengikuti jalan utama yang penuh dengan hiruk pikuk kendaraan ke arah Pyin Oo Lwin dan Lashio sejauh kira-kira 23 km. Begitu belok kanan keluar dari jalan utama tersebut, suasana langsung berubah. Kini hampir tidak ada kendaraan lain selain kami. Semakin masuk ke dalam, pemandangan alam nan asri pun mulai menghiasi perjalanan kami. Saking asyiknya terlena dengan panorama sekitar, kami sampai sempat kelewatan beberapa kilometer dari jalur masuk ke tempat wisata air terjun. Akhirnya, kami terpaksa bertanya arah pada warga setempat.

Di Dee Dote, kendaraan hanya bisa menemani hingga tempat parkir, sedangkan untuk dapat menikmati air terjunnya pengunjung masih harus melalui jalan mendaki yang cukup melelahkan. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, namun pada saat kami mendaki sudah hampir tengah hari. Panas matahari sudah mulai menyengat. Setidaknya, kami berdua tidaklah sendiri. Ada beberapa pengunjung orang lokal yang juga menuju air terjun itu. Salah seorang dari bahkan sangat ramah terhadap kami. Kami bersama-sama mendaki sambil mengobrol hingga tiba di lokasi.

Begitu sampai, bayangan kami akan suasana alami nan hening pun sirna. Di sana suasananya lebih mirip seperti klub malam. Musik beat diputar keras-keras sementara para pengunjung kelihatan antusias bermain air. Kami pun hanya nongkrong memerhatikan sekitar sambil mencelupkan kaki kami ke air kolam berwarna biru yang dingin. Kembali turun ke tempat parkiran, kami berdua makan siang di warung makan lokal sekaligus mempersiapkan fisik kami untuk destinasi berikutnya karena petualangan hari ini barulah dimulai.
Kondisi jalanan utama yang gersang dan penuh debu.
Nampak sebuah air terjun kering di tengah perjalanan kami menuju Dee Dote
Petunjuk jalan untuk belok kiri ke pintu masuk Dee Dote yang kurang menonjol.
Pantas saja kami sampai sempat kelewatan.





Pegunungan hijau yang memanjakan mata, dapat dinikmati ketika mendaki ke lokasi air terjun Dee Dote
Jalur pendakian berbatu ke lokasi air terjun (kiri). Kolam air terjun Dee Dote (kanan)
Kembali ke jalan utama yang panas dan berdebu, kami menuju arah balik ke Mandalay tetapi hanya sampai di Desa Ongyaw dimana kami mengambil jalan belok ke kiri ke arah barat di pertigaan. Panasnya cuaca dan debu yang berterbangan membuat perjalanan kami cukup tidak nyaman. Kami sempat berhenti beberapa kali untuk membeli minum, mengisi bensin dan beristirahat. Sepengamatan kami selama di perjalanan, ada banyak jalan raya yang berbayar meskipun kualitas jalan jauh dari idealnya sebuah jalan tol. Untungnya sepeda motor tidak ditarik bayaran.

Tempat yang kami tuju adalah bekas ibukota Kerajaan Burma yang ditinggalkan pada tahun 1839 karena gempa bumi, yaitu Inwa, Innwa atau dulu dikenal juga dengan nama Ava. Saat kami pun tiba dari arah timur laut Inwa, hanya ada Sungai Myitnge yang menjadi penghalang kami untuk mengunjungi kota tua tersebut. Dari sana kami menggunakan jasa perahu penyebrangan yang nampaknya dapat digunakan untuk mengangkut manusia, kendaraan, dan bahkan hewan. Seorang dikenakan biaya 800 kyat, sedangkan satu sepeda motor dikenakan biaya 400 kyat. 

Tiba di seberang, kami disambut oleh suasana desa dengan jalan-jalan kecilnya yang tidak mulus. Luas wilayah Inwa cukup besar untuk dijelajahi dengan berjalan kaki. Sebagai alternatif, pengunjung juga dapat menyewa kereta kuda beserta pengendara, biayanya bervariasi antara 2.500 hingga 5.000 per orang. Untunglah kami membawa serta sepeda motor kami menyeberang kemari, jadi kami dapat berhemat.

Ada beberapa situs kuno menarik yang dapat dikunjungi di sini, sebut saja menara pengawas, kuil, serta dinding kota. Pertama-tama kami menuju ke sebuah biara bernama Maha Aung Mye Bonzan lewat jalan pintas berbekal aplikasi google maps. Biara ini merupakan contoh sempurna dari arsitektur Burma pada zaman Dinasti Konbaung (1752-1885). Namun alih-alih terbuat dari kayu seperti biara-biara lainnya yang sejaman, Maha Aung Mye Bonzan terbuat dari batu bata. Hal ini membuat biara ini juga sering disebut brick monastery. Tiket terusan Mandalay Archaelogical Zone seharga 10.000 kyat/orang yang kami gunakan untuk mengunjungi tempat-tempat lainnya di Mandalay pada hari sebelumnya pun berlaku untuk mengakses situs ini. Di depan kompleks biara, ada beberapa penjual kelapa muda di bawah pohon rindang. Itu benar-benar sesuatu yang menggoda dalam keadaan panas ekstrem seperti ini. 

Inilah perahu yang menyeberangkan kami dan motor kami ke Inwa

Layanan kereta kuda yang siap mengantarkan pengunjung ke seluruh penjuru Inwa
Biara Maha Aung Mye Bonzan
Kemudian, kami menuju ke menara pengawas Namyin yang merupakan satu-satunya bangunan yang tersisa dari istana kerajaan Inwa. Di sini kami hanya bisa berfoto, untuk naik ke atasnya sangat berbahaya karena kondisi tangga kayunya yang sudah sangat buruk. Lalu kami juga ke Shwezigon Pagoda, dimana kami duduk-duduk sebentar untuk beristirahat. Nampaknya udara yang sangat panas ini sangat menguras energi dan mood kami dalam berjelajah. Selain itu, kami pun sempat masuk jalan-jalan kecil dan tersasar. Namun kemudian, kami menemukan jalan keluar tembok kota tua dan menemukan beberapa tempat menarik seperti Inn Wa Archaelogical Museum (tapi kami tidak masuk ke dalamnya karena mahal) dan kompleks pagoda Daw Gyan. Masih banyak situs bersejarah lainnya d Inwa, namun karena kami sudah terlalu lelah jadi kami putuskan untuk menyeberang keluar wilayah kota tua tersebut.

Berlatar belakang menara pengawas Namyin
Sisa-sisa tembok kota tua Inwa
Menuju pulang ke arah Mandalay, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Jembatan U-Bein di Amarapura. Sampai di sana sudah hampir sunset sehingga ada banyak pengunjung lainnya yang berseliweran di jembatan itu ataupun hanya duduk-duduk nongkrong di sekitarnya sambil menikmati sajian kuliner. Hal ini tak terelakkan lagi sebab Jembatan U-Bein merupakan jembatan kayu terpanjang di dunia yang telah menjadi salah satu ikon Myanmar. Memiliki panjang sekitar 1,2 kilometer, jembatan yang melintasi Danau Taung Tha Man ini menjadi tempat lalu lalangnya turis maupun orang lokal yang hendak menuju sisi lain danau tersebut. Karena sudah lelah, kami pun hanya menyusuri sebagian dari jembatan kayu ini.
Suasana di jembatan U-Bein menjelang matahari tenggelam

Keesokan harinya kami sudah harus meninggalkan Mandalay untuk kembali ke tanah air. Meskipun tidak sempat mengunjungi seluruh tempat atraksi yang ada di Mandalay dan wilayah sekitarnya, kami cukup puas telah mengunjungi atraksi-atraksi utama seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya. Pada hari terakhir kami masih sempat mampir ke Jade Market yang terletak di 87th St. Yang lebih penting lagi, tak lupa kami menginjakkan kaki di Mahamuni Pagoda yang fenomenal dengan patung Buddha besar dengan tempelan kertas-kertas emas di sekujur tubuhnya. Kuil ini selalu berada di dalam daftar harus dikunjungi ketika berada di Mandalay dan ketika kami berada di atas pesawat meninggalkan Myanmar kami dapat tersenyum melihat tempat tersebut telah tercentang di daftar kunjungan kami.
Jade Market di Mandalay
Patung Buddha Mahamuni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar