23 Juni 2016

Mengandalkan Berbagai Macam Transportasi di Bangkok

Di halaman depan Wat Benchamabophit
Rencana untuk tur eksklusif kami hari ini adalah mengunjungi satu tempat sebelum kami cek-out dan berpindah hotel. Untuk catatan perjalanan tur pada hari sebelumnya dapat dibaca di sini. Tempat yang akan kami datangi itu adalah Wat Benchamabophit. Kuil ini dibangun pada tahun 1899 seiring dengan selesainya pembangunan Istana Dusit yang jaraknya hanya selemparan batu dari situ. Banyak orang menganggap kuil ini adalah salah satu yang paling indah di Bangkok dan ternyata memang demikian adanya. Keindahan kuil ini terlihat bukan hanya dari atapnya yang berlapis-lapis, tetapi juga dari tembok bangunan utamanya yang terbuat dari marmer putih impor dari Italia. Tempat ini pun mendapat julukan 'Kuil Marmer' (The Marble Temple). Biaya masuk tempat wisata ini adalah sebesar 20 Baht. Karena masuk lewat pintu belakang, kami sempat berkeliaran di dalam kompleks kuil sebelum membeli tiket. Namun, jangan berpikir untuk masuk ke sini tanpa membeli tiket karena tiket akan diperiksa oleh petugas ketika hendak memasuki bangunan utama.

Duduk-duduk nongkrong di dalam bangunan utama
Patung-patung Buddha dengan berbagai pose
Pohon Bodhi di halaman belakang kuil ini didatangkan langsung dari India
Untuk mencapai Wat Benchamabophit, kami memilih bus lokal non-AC sebagai sarana transportasi. Bus di Bangkok meskipun armadanya banyak yang terlihat sudah sangat tua, tapi dari segi sistem masih lebih baik dibanding di Indonesia. Bus hanya berhenti di tempat-tempat pemberhentian yang telah ditentukan. Beberapa rute bus memiliki interval waktu kedatangan yang sangat pendek, namun bus no.72 yang hendak kami tumpangi ini lama sekali datangnya.


Akhirnya bus datang juga. Kami langsung naik dan duduk manis. Umumnya, kenek bus akan langsung menghampiri penumpang yang baru naik untuk menagih ongkos perjalanan, tapi kali ini kami sempat heran kenapa kami tidak juga didatangi. Setelah sekian lama, kami baru sadar bahwa ternyata ini adalah bus gratis! Beberapa rute bus di Bangkok memang telah digratiskan oleh pemerintah. Itu merupakan langkah yang baik untuk meningkatkan layanan publik. Tapinya, akan jauh lebih baik lagi apabila bus-bus gratis ini interval kedatangannya ditingkatkan.

Ketika kembali dari Kuil Marmer, kami menuggu bus yang sama selama kurang lebih satu jam tapi bus tidak kunjung lewat! Akhirnya terpaksa kami naik taxi sampai stasiun BTS terdekat untuk lanjut naik skytrain ke Thong Lor. Gara-gara kelamaan nunggu bus, sekarang kami jadi terburu-buru mengejar waktu cek-out hotel. Untunglah skytrain yang anti-macet dan anti-lampu merah ini sangat bisa diandalkan.

Instalasi kabel listrik di Thailand memang semerawut.
Tapi salah satu sudut di Thong Lor ini adalah yang terparah.
Sekumpulan kabel listrik dibiarkan tumbang begitu saja ke trotoar.

 
Kami bertiga makan siang di pinggir jalan sebelum berpindah hotel
Setelah makan siang, kami naik taxi ke Ramkhamhaeng untuk cek-in di hotel lain yang lebih bagus. Alasan kepindahan kami ke hotel bintang tiga ini karena kami mendapat promo harga yang murah sekali sehingga sayang untuk dilewatkan. Ngomong-ngomong, jika bepergian bertiga atau berempat, menggunakan taxi di Bangkok merupakan pilihan yang praktis dan cukup murah. Dalam memilih taksi pun tidak perlu bingung dan super teliti (tidak seperti di Indonesia dimana ada banyak taksi abal-abal dengan warna menyerupai taksi terpercaya). Beda warna taksi hanya berarti beda perusahaan. Sedangkan untuk tarifnya sama saja. Hanya saja, kalau kita terlihat seperti turis, banyak supir taxi yang tidak mau menggunakan argo. Selama kami naik taxi di Bangkok sih supir selalu memasang argo. Mungkin itu karena muka kami Asia dan saya selalu menggunakan Bahasa Thai ketika mengatakan tempat yang dituju.
Pemandangan area Ramkhamhaeng dari jendela hotel
Hotel baru kami ini terkoneksi langsung dengan ARL dan dermaga perahu Saen Saep. Tetapi kami memilih untuk kembali naik bus lokal yang tarifnya memang sangat murah. Tujuan kami adalah ke Rattanakosin tempat atraksi-atraksi utama Bangkok berada. Namun perjalanan kami kali ini dihadang oleh badai kemacetan yang luar biasa. Saya harap ini bisa jadi masukkan bagi pelancong yang berencana menggunakan bus lokal di Bangkok; ongkos bus yang sangat murah sepadan dengan apa yang diberikannya.

Singkat cerita, kami turun tepat di seberang Sanam Luang yang berada di dekat Grand Palace. Area ini merupakan area utama keramaian turis maka disarankan pengunjung untuk berhati-hati. Salah satu penipuan yang paling sering terjadi di sini yaitu seseorang memberitahu kita bahwa tempat wisata yang kita tuju tutup karena suatu sebab, kemudian orang itu menawarkan untuk ikut turnya yang pastinya kemahalan. Hal ini terjadi pada kami ketika kami berjalan menuju Wat Pho. Sempat ragu dibuatnya, namun untungnya kami tetap cuek. Ketika akhirnya kami tiba di tempat tujuan, informasi tersebut terkonfirmasi bohong. Hati-hari juga dengan penukaran mata uang asing di area ini yang rate-nya sangat parah, mungkin malah bisa dibilang perampokan. Sebisa mungkin jangan pernah tukarkan uang Anda di area ini.

Kompleks Grand Palace terlihat dari jauh
Taman di seberang Grand Palace ini cukup menggiurkan untuk duduk-duduk beristirahat sambil mengamati
burung-burung yang berkeliaran. Namun berhati-hatilah dengan penipuan orang yang memberi
Anda makanan burung, padahal nantinya disuruh bayar mahal.

Yang membuat kami datang ke Wat Pho tidak lain adalah patung Buddha tidur raksasa sepanjang 46 m yang sangat terkenal. Saking besar dan panjang ukurannya, patung ini cukup sulit untuk difoto secara utuh. Untuk berfoto bersama separuh bagian patung pun kita harus bersabar, karena kuil ini sangat ramai pengunjung. Retribusi masuk ke Wat Pho adalah sebesar 100 Baht, sudah termasuk air minum sebotol. Merasa sayang karena sudah bayar, kami pun mengeksplorasi keseluruhan kompleks kuil yang amat besar ini. Sampai-sampai kami sempat tersesat dan membutuhkan peta untuk tahu jalan kembali ke tempat pertama kali tadi kami masuk. Di dalam kompleks Wat Pho, banyak yang bisa dilihat, dikagumi dan difoto; membuat kuil yang sejatinya adalah universitas publik pertama di Thailand ini sangat layak untuk dikunjungi.
Bersama patung Buddha raksaksa
Alamak, kaki patungnya pun sebesar ini pula!
Lorong kuil selalu dipenuhi pengunjung seperti ini
Kompleks Wat Pho yang sangat luas serta susunannya yang mirip
dari setiap arah mata angin membuat pengunjung mudah tersesat di dalamnya.
Dua biksu sedang berbincang di luar bangunan utama Wat Pho
Tempat-tempat wisata di area Rattanakosin sebenarnya dapat dikelilingi dengan berjalan kaki. Namun pengunjung seringkali malas melakukannya lantaran panasnya hawa di Bangkok. Kami beruntung begitu keluar dari Wat Pho cuaca mendung sehingga nyaman untuk berjalan kaki. Akan tetapi, di tengah jalan hujan turun. Apa boleh buat, kami terobos saja dengan mengenakan jas hujan.

Inilah rute jalan kaki kami. Pertama-tama, kami berjalan melewati Wat Ratchabophit yang juga merupakan sebuah kompleks kuil tua dan megah. Lalu kami berjalan menyusuri pertokoan yang menjual patung-patung Buddha dan perlengkapan ibadah sambil sebisa mungkin menghindari tetesan air hujan. Di ujungnya, kami melihat sebuah konstruksi raksaksa berwarna merah. Itu adalah Giant Swing! Tiang yang berdiri tepat di depan Wat Suthat ini cukup fenomenal karena sempat digunakan untuk perayaan panen raya di masa lampau. Namun setelah terjadi banyak kecelakaan yang berujung kematian, aktivitas berayun-ayun di tiang ini pun dihentikan.

Kemudian kami berbelok dan terus menyusuri pinggiran toko hingga tiba di Democracy Monument. Dari situ, kami lanjut berjalan sedikit ke Jalan Khao San yang terkenal sebagai tempat tinggal pelancong-pelancong backpacker-an. Dengan cara kaki yang sudah pegal-pegal, kami mengerahkan sisa tenaga terakhir untuk berjalan ke dermaga terdekat yaitu Tha Tien. Kala itu hari sudah gelap, saya sempat khawatir terlambat karena setahu saya perahu tidak beroperasi sampai larut. Tapi nyatanya, masih ada perahu berbendera oranye yang lewat. Sebagai info, perahu-perahu angkutan umum yang melintas di Sungai Chao Phraya ini dipasangi bendera berwarna untuk menandakan rutenya. Perahu berbendera oranye adalah yang paling penting bagi pelancong karena singgah di dermaga-dermaga yang berdekatan dengan tempat wisata. Pada malam itu kami pun menumpang naik perahu berbendera oranye hingga ke Yaowarat.
Giant Swing

Hujan-hujan di Democracy Monument

Begitu menapakkan kaki dan keluar dari dermaga Ratchawong, kami disambut oleh kesunyian. Toko-toko di sekitar dermaga kebanyakan sudah tutup. Tapi begitu kami tiba di jalan utama Yaowarat, kami pun melihat keramaian. Yaowarat adalah area pecinan di Bangkok. Jalanan utamanya dipenuhi dengan deretan toko-toko yang menjual makanan dan obat-obatan khas Tiongkok. Di depan toko-toko itu pun orang mendirikan tenda untuk berjualan. Pada malam hari, area ini merupakan tempat populer untuk nongkrong baik bagi turis maupun orang lokal. Kami pun ikut nongkrong sambil makan malam di sana.

Setelah kenyang, kami lanjut berjalan menuju Stasiun Hua Lamphong. Kami melewati Wat Traimit yang sudah tutup. Kekhasan dari kuil ini adalah memiliki patung Buddha yang terbuat dari emas murni. Ceritanya, ketika dahulu kala Kerajaan Thailand diinvasi oleh Burma, patung Buddha ini dilapisi oleh semen agar luput dari penjarahan musuh. Lalu setelah sempat lama terlupakan, di kemudian hari ketika sedang digotong untuk dipindahkan ke lain tempat, tidak sengaja patung ini jatuh dan lapisan plesternya pecah. Pada saat itu, barulah ketahuan bahwa patung ini dari emas.
Keramaian malam di pecinan Bangkok
Muka-muka orang kelelahan yang sedang menunggu MRT untuk balik ke hotel
Dengan naik MRT dari Stasiun Hua Lamphong dan kemudian berpindah naik ARL langsung ke Ramkhamhaeng yang stasiunnya terkoneksi langsung dengan hotel tempat kami menginap, maka berakhirlah hari yang panjang dan melelahkan ini. Kami sudah mencicipi berbagai jenis transportasi di kota Bangkok ini, dari bus lokal, taxi, skytrain, perahu, MRT, hingga ARL. Tak kurang juga kami berjalan kaki. Lalu, manakah mode transportasi yang paling dapat diandalkan? Saya akan menjawab; kombinasi seluruhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar