25 Juni 2016

Mengarungi "Tembok Pertahanan Samudera" Samut Prakan



Nama Samut Prakan memang tidak setenar Bangkok yang telah dikenal luas oleh semua orang di dunia, namun kota yang jaraknya hanya 30 km dari ibukota Thailand itu ternyata tidak hanya memiliki Bandara Internasional Suvarnabhumi tetapi juga banyak tempat yang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Perjalanan kami mengunjungi tempat-tempat atraktif tersebut ditemani oleh tiga orang perempuan muda lokal -Tarn, Koi dan Pin- yang setia membantu kami memahami Thailand secara umum dan secara khususnya Samut Prakan yang merupakan area dengan jumlah penduduk terbanyak di Negeri Gajah Putih ini.

Kata samut berasal dari Bahasa Sansekerta samudra, sedangkan prakan berasal dari kata prakara yang artinya "tembok/benteng pertahanan". Jadi, Samut Prakan berarti "tembok pertahanan samudera". Pastinya ada alasannya mengapa tempat ini dinamakan demikian.

Maka tepat sekali apabila situs yang pertama kami berlima tuju adalah Fort Plaeng Faifah; sebuah benteng pertahanan tua dengan kondisi agak terbengkalai. Dulu ada banyak sekali benteng di sepanjang Sungai Chao Phraya, namun sekarang yang tersisa di sisi kanannya hanyalah benteng ini. Dengan mengunjungi sepotong kecil puzzle inilah, kami mendapatkan gambaran yang lebih besar lagi mengenai sejarah Thailand sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh bangsa barat.

Chao Phraya merupakan sungai yang menjadi jalan masuk ke area pusat pemerintahan. Bentuknya yang meliuk-liuk seperti ular menjadi rintangan bagi musuh yang hendak menyerang. Ditambah lagi dengan benteng-benteng pertahanan di sepanjang sungai tersebut yang siap menembaki kapal musuh, nampaknya perthanan ibukota tidak dapat dijebol lewat perairan. Namun demikian, tetap saja kekuatan militer bangsa barat yang jauh mengungguli Thailand dapat mengatasinya. Jadi bukan karena alasan pertahanannya tidak tertembus maka Thailand tidak pernah dijajah bangsa barat, melainkan karena kepiawaian dalam hal diplomasi dan mungkin juga ...........sedikit faktor keberuntungan?
Kami ditemani oleh tiga 'Charlie's Angels' dari Samut Prakan
sedang berada di Fort Plaeng Faifah. (Dari belakang ke depan): Pin, Tarn, Koi.
Setelah belajar sejarah Thailand, kami melanjutkan perjalanan ke Bang Namphueng Floating Market. Meskipun mengklaim sebagai pasar terapung, sebenarnya tempat ini lebih cocok disebut pasar pinggir kali. Jadi, ini bukanlah pasar terapung dimana kita bisa naik perahu. Hanya ada beberapa perahu milik pedagang yang diam merapat. Namun bagaimanapun, ada banyak hal yang dapat dilhat, dibeli dan dicicipi di sini. Dan hal baik lainnya adalah tempat ini cukup otentik dengan tidak terlalu banyak turis asing di dalamnya.
Dari papan namanya saja sudah kelihatan bahwa tempat ini tidak penuh turis
Pasar Terapung Bang Nampheung yang minim dengan perahu
Makanan ringan tradisional; makan daun!
Makan siang bersama lesehan di pasar terapung
Kemudian, kami lanjut ke Sri Nakhon Khuean Khan Park and Botanical Garden yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pasar terapung, hanya sekitar 4 km. Di tengah jalan ke taman tersebut, terlihat ada banyak turis sedang bersepeda. Mereka cukup menghambat gerak mobil kami karena lebar jalan yang kami lalui itu pun cukup sempit. Ternyata sepeda-sepeda yang dinaiki turis itu adalah sepeda sewaan dari tempat wisata yang hendak kami tuju.

Selain bersepeda, aktivitas lain yang ditawarkan oleh taman botani yang kerap disebut sebagai paru-parunya Bangkok ini adalah memberi makan para ikan. Itulah yang kami lakukan. Makanan ikan berbentuk pelet dapat dibeli ketika masuk ke taman. Namun, Pin yang adalah seorang pramugari juga membawa makanan lainnya untuk ikan-ikan; roti yang ditinggalkan di atas pesawat oleh para penumpang. Ikan-ikan di sana betul-betul lapar kalau tidak rakus. Setiap kali kami melemparkan makanan, mereka langsung berebut dengan ganasnya. Kasihan sekali seekor kura-kura yang juga ada di kolam itu yang selalu kalah cepat dalam berebut makanan.
Beberapa turis terlihat sedang bersepeda di area sekitar
Sri Nakhon Khuean Khan Park and Botanical Garden.
Pin betul-betul menjadi 'angel' bagi ikan-ikan yang kelaparan
Sri Nakhon Khuean Khan Park and Botanical Garden dapat menjadi pilihan tepat
untuk melarikan diri kembali ke alam dari segala keruwetan metropolitan Bangkok
Ketika matahari hampir terbenam, kami semua masuk ke area khusus angkatan laut di pinggir sungai Chao Phraya. Sebenarnya ini adalah area terlarang bagi umum. Kami dapat masuk ke sana karena ibu Tarn kerja sebaga dosen di akadami angkatan laut. Angin yang cukup kuat menemani kami yang duduk-duduk di sana sambil ngobrol. Ketika ibu Tarn datang, kami pun dapat mengakses kompleks tersebut lebih dalam lagi. Kemudian hujan datang membubarkan kami. Namun angin dan hujan tidak akan mampu untuk menghapus kenangan kami di Samut Prakan.
Erawan Museum di Samut Prakan
dengan patung trio gajahnya yang cukup menarik perhatian


Nongkrong bareng di pinggir Chao Phraya.

Makan malam terakhir kami bersama dengan teman-teman di Samut Prakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar