27 Juni 2016

Mengayuh Mandalay

Tipikal penampakan kuil Myanmar
Sebagai seorang pelancong, saya sering merasa iri pada negara tetangga Malaysia. Betapa tidak, pemegang paspor RI hanya dapat mengunjungi 58 negara tanpa visa, sedangkan Malaysia paspornya dapat dipakai untuk mengunjungi 154 negara tanpa visa termasuk di antaranya negara-negara Uni Eropa.

Secara umum paspor kita memang kalah sakti, namun ternyata ada sedikit keunggulannya dibandikan paspor Malaysia, yaitu bebas masuk Myanmar tanpa visa. Sebagai negara yang baru beberapa tahun ini membuka diri, Myanmar menyimpan banyak pesona yang khas yang siap untuk disingkapkan. Memegang paspor RI, kami tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk datang ke Myanmar/Burma.

Akses masuk Myanmar yang diizinkan bagi turis asing masih sangat terbatas, yaitu hanya melalui tiga bandara internasional. Kami memilih penerbangan termurah dari Bangkok yang saat itu jatuh pada Mandalay. Terletak di utara Myanmar, Mandalay sempat menjadi ibukota kerajaan pada masa lampau sehingga banyak sekali ditemukan bangunan-bangunan tua menarik di sekitarnya.

Bersepeda di dalam kota Mandalay
Selain akses masuk, pilihan transportasi di dalam negeri pun amat terbatas. Dari Bandar Internasional Mandalay, kami naik bus Shwe Nan San untuk ke pusat kota. Sebagai alternatif, ada juga taxi bersama berisi 4 orang penumpang. Ongkos per orang adalah 4.000 kyat, baik naik bus maupun taxi. Perjalanan dari bandara ke pusat kota memakan waktu sekitar 1 jam. Meskipun naik bus, kami diantar sampai ke depan pintu hotel. Perlu diketahui, biaya hotel di Myanmar tidaklah murah. Kami memilih hotel yang menyediakan fasilitas peminjaman sepeda gratis agar dapat menekan biaya transportasi. Maka kali ini kami pun perlu mengayuh pedal untuk ke tempat-tempat menarik di dalam kota Mandalay.

Pertama-tama, kami langsung menuju ke sebuah istana kerajaan yang berada dalam area seluas 2 km persegi dengan dikelilingi parit di keempat sisinya. Hanya pintu timur yang dapat diakses oleh turis, jadi kami yang datang dari sisi barat harus memutar. Ketika melewati gerbang masuk yang dijaga tentara, kami harus menuntun sepeda kami lalu selanjutnya hanya diperbolehkan jalan lurus karena di situ adalah area militer. Kami pun tidak berniat mencoba untuk menyimpang ke kanan dan ke kiri. Bagusnya istana kerajaan alias Golden Palace yang kami tuju tak mungkin dapat terlewatkan.

Bernama asli Mya Nan San Kyaw Shwe Nan Daw, Golden Palace merupakan pusat pemerintahan terakhir dari monarki terakhir Burma  sebelum akhirnya runtuh diserang oleh Inggris. Bangunan aslinya telah ludes terbakar. Yang ada sekarang adalah hasil rekonstruksi pada tahun 1990-an. Namun, bisa dibilang ini adalah hasil rekonstruksi yang sangat bagus.

Di dalam istana, ada banyak tempat untuk lesehan. Kami sempat bersantai sambil berimajinasi hidup dalam kompleks kerajaan kuno. Tidak terlalu sulit untuk membayangkannya, karena di sana banyak pula orang lokal Myanmar yang berseliweran mengenakan sarung tradisional longyi dengan muka penuh thanaka (krim alami penangkal panas matahari). Hal yang cukup melelahkan namun patut dicoba adalah naik ke puncak menara pengawas melalui ratusan anak tangga yang melingkar-lingkar.
Tampak depan Istana Kerajaan Mandalay
Seorang biksu kecil sedang menikmati pemandangan kompleks kerajaan dari puncak menara pengawas (Kiri)
Menara pengawas dengan ratusan tangga melingkarnya(Kanan)

Keluar dari area 2x2 km ini, kami sempat mampir ke sebuah mal bernama CityMart yang meskipun mungil namun menyediakan semua hal yang kami butuhkan; air minum, buah-buahan segar, penukaran valas dan toilet. Cukup lucu juga melihat orang-orang Myanmar yang mengunjungi mal mengenakan bawahan sarung (kayak orang habis sunatan :p).

Setelah menyegarkan diri kembali di mal tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke Shwenandaw Kyaung dan Atumashi Kyaung. Kedua kyaung (biara) yang jaraknya berdekatan itu memiliki keunikannya masing-masing. Shwenandaw Kyaung merupakan satu-satunya bangunan kayu yang dibangun oleh Kerajaan Burma-bukan rekonstruksi- yang masih bertahan hingga kini. Terbuat dari jati, biara ini memiliki desain yang sangat menarik sehingga banyak yang menganggapnya sebagai sebuah karya agung seni pahat kayu. Sedangkan Atumashi Kyaung merupakan proyek bangunan religius terakhir Raja Mindon yang di dalamnya dulu ada patung Buddha sebesar 9 meter dengan berbajukan kain sutera dan berhiaskan permata besar di kepalanya. Sayangnya, harta berharga kini itu sudah raib dan seluruh bangunannya pun terbakar habis. Bangunan yang ada sekarang adalah hasil rekonstruksi, yang meskipun termasuk bagus namun tetap tidak semenakjubkan bangunan aslinya.

Tiket yang diperlukan untuk masuk ke kedua biara tersebut adalah tiket terusan seharga 10,000 kyat. Tiket ini sudah mencakup seluruh atraksi di dalam zona Mandalay Archaelogical Zone, termasuk istana kerajaan yang sebelumnya juga kami kunjungi. Tiket berlaku selama 5 hari.

Di depan Shwenandaw Kyaung
Panas-panasan demi berfoto dengan Atumashi Kyaung
Sekitar satu blok dari sana, ada dua tempat menarik berdekatan lainnya, yaitu Sandamuni Pagoda dan Kuthodaw Pagoda. Ada kemiripan di antara keduanya, yaitu deretan stupa berjumlah ratusan. Di dalam setiap stupa ada prasasti marmer bertuliskan teks-teks kitab suci Tripitaka. Karena isinya inilah pagoda-pagoda ini biasa disebut sebagai buku terbesar di dunia. Jika difoto dari udara akan tampak jelas formasi stupa-stupanya, namun jika disusuri dari bawah akan terasa seperti sebuah hutan stupa.

Keunikan kedua pagoda tersebut memang membuat kami takjub, namun di sini jugalah mulai kami rasakan sisi buruk dari pariwisata Myanmar. Kebanyakan tempat wisata yang kami kunjungi adalah tempat yang dianggap sakral. Oleh karena itu, alas kaki harus dicopot ketika masuk namun lantainya sering dalam keadaan kotor. Beberapa tempat malah mengharuskan alas kaki dilepas di pintu masuk paling depan. Jadi, terkadang kami juga harus melalui jalan tanah berdebu tak berlantai dengan keadaan tanpa alas kaki. Selain masalah kebersihan, ada juga masalah penipuan. Ketika mengunjungi Kuthodaw Pagoda, seorang ibu menghampiri kami dan mengolesi pipi kami berdua dengan thanaka. Kemudian, ia memaksa kami membeli kartu rajutan dengan harga kemahalan; 3,000 kyat!.

Kolam di dekat Sandamuni Pagoda yang cukup menyejukkan
di tengah-tengah ganasnya sengat matahari siang.
Stupa-stupa berisi prasati yang bertuliskan teks Tripitaka di Kuthodaw Pagoda
Seorang anak kecil Myanmar dengan wajah penuh thanaka (Kiri)
Pipi kami semua teroles thanaka. Sunblock tradisional ini rasanya memang cukup efektif menangkal panas (Kanan)

Berikutnya kami memutar ke belakang Sandamuni Pagoda. Di sana terdapat sebuah bangunan religius lainnya bernama Kyauk Taw Gyi Paya. Di dalam kuil ini terdapat patung Buddha besar yang uniknya  dipahat dari satu potongan marmer saja. Dari sini sebenarnya sudah sangat dekat dengan jalan masuk selatan ke Mandalay Hill. Namun karena sudah letih dan cuaca sedang panas sekali, kami pun undur diri kembali ke hotel.

Setelah beristirahat dan matahari tidak lagi menyengat, kami pun bersepeda keluar lagi. Awalnya kami hendak main ke City Park tapi ternyata jam operasional taman tersebut sudah berakhir. Di seberang pintu masuk taman, adalah Sungai Ayeyarwaddy. Kami sempat ke pesisirnya guna menikmati pemandangan matahari terbenam. Cukup indah, namun sayang kawasan pinggir sungai ini nampaknya menjadi pemukiman liar warga miskin. Pada akhirnya di malam hari, kami jalan-jalan ke Diamond Plaza-mal terbesar di Mandalay- sambil berbelanja barang-barang yang dibutuhkan untuk eksplorasi esok hari.
Koridor di Kyauk Taw Gyi Paya dipenuhi oleh pedagang pernak-pernik.
Patung Buddha "Great Marble Image" di Kyauk Taw Gyi Paya
Matahari terbenam di Sungai Ayeyarwaddy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar